Update Corona di DIY

Pakar UGM: Penting Dipantau Seksama Kemungkinan Klaster Pilkada

Dedi kembali menyampaikan prediksi tren terbaru kasus terkonfirmasi Covid-19, baik untuk prediksi tren jangka pendek maupun tren jangka panjang.

Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Ari Nugroho
istimewa
Berita Update Covid-19 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Akhir pandemi Covid-19 sangat bergantung pada upaya pemerintah dalam pengendalian laju penyebaran penyakit Covid-19.

Hal ini disampaikan Guru Besar Statistika UGM, Prof. Dr. rer.nat. Dedi Rosadi, S.Si., MSc.

“Akhir pandemi sangat bergantung pada upaya pemerintah dalam mengendalilkan laju penyebaran penyakit Covid-19 ini,” tuturnya saat dikonfirmasi Tribunjogja.com, Kamis (24/9/2020).

Dedi kembali menyampaikan prediksi tren terbaru kasus terkonfirmasi Covid-19, baik untuk prediksi tren jangka pendek maupun tren jangka panjang.

Dalam jangka waktu dekat, menurutnya, secara nasional yang penting dipantau secara seksama adalah kemungkinan kemunculan klaster Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

Peta Sebaran Kasus Baru Covid-19 hingga Kamis 24 September 2020 Pagi Ini, Data Rinci di 34 Provinsi

“Secara nasional dalam jangka waktu dekat, penting untuk dipantau secara seksama kemungkinan kemunculan klaster Pilkada. Ini dikarenakan mobilitas penduduk pada proses kegiatan ini baik sebelum hari H, maupun pada hari H kegiatan Pilkada,” terangnya.

Ia pun mengungkapkan perlunya meningkatkan kewaspadaan adanya penularan lokal di beberapa wilayah provinsi atau kabupaten yang menjadi episentrum penyebaran Covid-19.

Hal itu penting dilakukan mengingat angka perhitungan Rt (angka reproduksi/angka penularan) Covid-19 Indonesia dalam beberapa hari terakhir masih di sekitar 1.07.

Berdasarkan tracking data terakhir menggunakan berbagai pendekatan pemodelan data-driven (berbasis pergerakan data), Dedi mengungkapkan, terdapat kenaikan nilai proyeksi kasus positif di akhir pandemi yang cukup signifikan dibanding rilis terakhir di akhir Juli 2020.

"Prediksi paling optimis diperoleh dengan menggunakan model hybrid kompartemen SIR-Regresi-runtun-waktu diperkirakan pandemi akan berakhir di pertengahan Februari 2021 dengan total kasus positif minimal 322 ribu penderita," tutur Dedi.

Sementara, hasil pemodelan lainnya yang menggunakan Probabilistic Data Driven Model (PDDM) Covid-19 Indonesia yang disusun oleh Dedi bersama Alumnus FMIPA UGM, Drs. Joko Kristadi, MSi. dan Dr. Fidelis Diponegoro, S.Si., MM., diperoleh bahwa pandemi akan berpuncak di pertengahan November sampai awal Desember dan berakhir di akhir Mei 2021 dengan estimasi total kasus positif sekitar 700 ribu penderita.

Sedangkan dengan tim lainnya, Dedi melakukan kajian dengan pendekatan model kurva Richard dan kurva pertumbuhan logistik.

Hasil Screening, Lima Pegawai Puskesmas di Kota Magelang Terpapar Covid-19

Penelitian tersebut menunjukkan proyeksi akhir pandemi berada di antara April 2021 sampai dengan awal 2022 dengan range prediksi total penderita yang sangat mirip dengan hasil model SIR-Regresi dan PDDM di atas.

Jumlah Pasien Harian Belum Mencapai Puncak
Lebih lanjut, kata Dedi seperti dilansir dari laman web ugm.ac.id., dari pantauan kurva insidensi harian penderita terlihat bahwa penambahan jumlah pasien harian belum mencapai puncaknya sampai sekarang.

Sedangkan, angka penularan sat ini (Rt) masih di atas 1 atau tepatnya 1.07 pada 23 September 2020.

Namun demikian, jelas Dedi, dengan model SIR-Regresi-runtun-waktu dapat disimpulkan terjadi sedikit peningkatan laju infeksi penyebaran penyakit yang dibarengi dengan peningkatan yang cukup tinggi terhadap laju kesembuhan pasien.

Berdasarkan prediksi tersebut Dedi menyampaikan sejumlah catatan penting yang patut menjadi perhatian bersama pada saat ini.

Pertama, perlunya dilakukan pengendalian penyebaran Covid-19 secara optimal dengan menggencarkan 3T yakni tracing, testing, dan treatment di episentrum utama Indonesia yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, dan Sulawesi Selatan.

Demikian pula di provinsi lain perlu dilakukan pengendalian penyebaran secara lebih optimal dengan lebih menggencarkan gerakan 3T.

"Penurunan laju penularan dapat dilakukan secara optimal dengan berbagai upaya. Utamanya dengan pendisiplinan masyarakat dalam menaati protokol kesehatan khususnya penggunaan masker dan menjaga jarak, pengaturan mobilitas penduduk secara lebih berhati hati, dan pemberian vaksin massal. Di sisi lain, penemuan teknologi obat akan meningkatkan laju kesembuhan, sehingga secara bersama sama upaya-upaya tersebut akan dapat mengakhiri pandemi Covid-19 secara lebih cepat," tandasnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved