Analisis Nilai Tukar Rupiah dan Harga Emas Hari Ini Jumat 18 September 2020
Harga emas batangan bersertifikat Antam keluaran Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) stagnan pada hari Jumat (18/9/2020).
Logam Mulia Antam menjual emas dan perak batangan dalam beberapa ukuran berat (misalnya 1 gram, 2 gram, dan 500 gram). Biasanya harga per gram emas Antam akan berbeda tergantung berat batangnya.
Perbedaan ini terjadi karena ada biaya tambahan untuk pencetakan, sehingga harga per gram emas Antam batang kecil lebih mahal dari batang yang lebih besar. Harga yang ada di sini adalah harga per gram emas batang 1 kilogram yang biasa dijadikan patokan pelaku bisnis emas.
Nilai Tukar Rupiah
Keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga 7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRRR) pada level 4% membawa rupiah bergerak menguat pada Kamis (17/9). U
ntuk Jumat (18/9), analis dan ekonom memperkirakan rupiah masih berpeluang kembali menguat.
Mengutip Bloomberg, Kamis (17/9), rupiah menguat 0,07% ke Rp 14.833 per dolar AS. Namun, kurs tengah BI mencatat rupiah melemah 0,23% ke Rp 14.878 per dolar AS.
Analis Valbury Asia Futures Lukman Leong mengatakan suku bunga BI7DRRR yang dipertahankan pada level 4% mendukung penguatan rupiah.
"Tingkat suku bunga Indonesia cukup tinggi di tengah kondisi ekonomi global yang sedang tertekan, faktor ini membuat rupiah menguat," kata Lukman, Kamis (17/9).
Ekonom Samuel Sekuritas Ahmad Mikail Zaini menambahkan, suku bunga BI yang tidak berubah membuat spread yield Surat Utang Negara (SUN) dan yield US Treasury menjadi stabil dan tetap tinggi. Alhasil, rupiah berhasil menguat.
Namun, Lukman mengamati pelaku pasar saat ini masih menafsirkan dampak pernyataan The Fed yang tetap dovish.
Dalam jangka pendek sikap The Fed yang akomodatif dan akan terus menyuntikkan likuiditas di pasar memberi sentimen positif pada rupiah.
Namun, di saat yang sama The Fed yang memproyeksikan pelemahan ekonomi AS akan berlangsung lama ujungnya bisa memberikan sentimen negatif ke pasar keuangan global.
Mikail memproyeksikan indeks dolar AS akan bergerak melemah karena pertumbuhan ekonomi AS stagnan. "Data ketenagakerjaan minggu ini diproyeksikan tumbuh stagnan karena ritel sales AS di periode Agustus juga stagnan, perbaikan ekonomi AS yang stagnan membuat dollar AS melemah," kata Mikail.
Sementara, secara fundamental rupiah berpotensi masih bisa menguat karena dukungan surplus neraca perdagangan.
Mikail memproyeksikan rupiah Jumat (18/9) cenderung masih menguat di rentang Rp 14.790 per dolar AS hingga Rp 14.800 per dolar AS.
Secara teknikal Lukman juga menganalisis rupiah berpotensi menguat di rentang Rp 14.750 per dolar AS-Rp 14.875 per dolar AS. (*)