Sleman

Dinkes Sleman Sebut Penularan di Pasar Cebongan sebagai Klaster

Setelah orang tersebut dinyatakan dinyatakan positif COVID-19, Dinkes Kabupaten Sleman kemudian melakukan tracing kontak erat dengan dua pasien COVID-

Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Ari Nugroho
Tribun Jogja/ Christi Mahatma
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Joko Hastaryo, memberikan keterangan pada media di Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Senin (10/08/2020) 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Penularan COVID-19 di Pasar Cebongan, Mlati, Sleman relatif cepat.

Hingga saat ini ada 19 orang terpapar COVID-19 dari Pasar Cebongan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Joko Hastaryo mengatakan penularan pertama adalah penjaga MCK di area pasar.

Setelah memiliki gejala COVID-19, seperti batuk dan pilek, penjaga tersebut memeriksan diri ke fasilitas kesehatan dan dinyatakan positif pada 7 September lalu.

Setelah penjaga MCK positif, ada satu pedagang yang akhirnya tertular COVID-19 karena sering berkomunikasi.

Setelah orang tersebut dinyatakan dinyatakan positif COVID-19, Dinkes Kabupaten Sleman kemudian melakukan tracing kontak erat dengan dua pasien COVID-19 sebelumnya.

Peta Sebaran 3.141 Kasus Baru COVID-19 di Indonesia, DKI Jakarta Masih Tertinggi

"Setelah kami lakukan tracing hasilnya cukup besar. Ada sekitar 98 hingga 100 (yang jadi sasaran). Ada yang swab, ada yang rapid tes. Kalau rapid tes reaktif langsung kami minta swab. Dari pertama kasus ada 2 lalu tambah 5, dan kemarin tambah 12,"katanya, Senin (14/09/2020).

Yang menjadi sasaran tracing adalah keluarga pasien dan beberapa pedagang pasar Tradisional. Sasaran yang paling banyak terpapar COVID-19 adalah dari keluarga pasien.

Sementara untuk pedagang Pasar Cebongan justru tidak banyak.

Dengan penambahan menjadi 19 kasus, Joko menyebut kasus Pasar Cebongan sudah bisa dinyatakan sebagai klaster.

"Seperti kita ketahui selama ini klaster itu kalau pola penularan jelas dan sudah mulai ke generasi ketiga. Sehingga kalau pertimbangan secara epidemiologis, memang itu termasuk klaster. Sumber awal tidak diketahui, tetapi menularkan ke satu, kemudian satunya, dan menularkan ke yang lain. Sudah kategori klaster," ungkapnya.

BREAKING NEWS : Mulai Selasa 15 September 2020, Pasar Cebongan Tutup 3 Hari

Dari beberapa pasien yang masuk dalam klaster Pasar Cebongan, beberapa yang mengalami gejala sedang sudah dirawat di rumah sakit.

Sedangkan beberapa yang kontak erat diminta untuk karantina di shelter Asrama Haji, Sleman.

"Kalau kontak erat kami minta untuk karantina, untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,"tutupnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved