Yogyakarta
Mimpi Sugiyah Terwujud, Kini Miliki Rumah Layak Huni
Sejumlah instansi itu dan masyarakat sekitar membantu memperbaiki rumah tidak layak huni dan tidak sehat milik Sugiyah melalui program Rumah Harapan.
Penulis: Yosef Leon Pinsker | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Bertahan hidup seorang diri selama puluhan tahun di dalam rumah yang semakin hari semakin mengkhawatirkan, harus terus dijalani oleh Sugiyah (56 tahun), warga asal Desa Argorejo, Kec. Sedayu, Bantul, Yogyakarta.
Dinding rumah yang kian hari kian keropos, atap yang bolong, membuat Sugiyah harus menahan dinginnya angin dan panasnya sengatan sinar matahari.
Bahkan bila hujan turun, Ia harus mengungsi ke rumah saudara yang tak jauh dari tempat tinggalnya.
Penghasilannya sebagai buruh serabutan yang hanya cukup untuk makan, membuat Sugiyah harus mengubur mimpinya untuk memiliki tempat tinggal yang nyaman.
Karena, baginya saat ini, asal perutnya sudah bisa terisi saja dia sudah bersyukur.
• Kementerian PUPR Terus Bergerak Siapkan Rumah Layak Huni
Lewat program Laznas Baitulmaal Muamalat (BMM) Perwakilan Yogyakarta yang bersinergi dengan Komunitas Berbagi Beras (KBB) serta berkolaborasi dari LSS (Laskar Srikandi Sedayu) FPRB (Forum Pengurangan Risiko Bencana) Argorejo dan seluruh warga masyarakat, Sugiyah kini boleh tersenyum lega.
Sejumlah instansi itu dan masyarakat sekitar membantu memperbaiki rumah tidak layak huni dan tidak sehat milik Sugiyah melalui program Rumah Harapan.
Program tersebut merupakan solusi bagi masyarakat yang membutuhkan untuk dapat tinggal dan memiliki rumah yang layak, sehat, dan nyaman untuk beribadah maupun berkehidupan sehari-hari.
Dibantu oleh FPRB, masyarakat sekitar, BMM dan KBB memperbaiki rumah Sugiyah secara gotong royong sejak 17 Agustus lalu.
Turut hadir juga Sarjiman, Camat Sedayu; Ngadimin, Kepala desa Argorejo serta Galeh Pujonegoro, Kadiv Penghimpunan dan Kordinator Perwakilan BMM.
• Tahun Ini, 200 Rumah Tidak Layak Huni di Bantul Diperbaiki
Galeh mengatakan, ada peribahasa yang cocok untuk mengungkapkan apa yang dialami oleh Sugiyah yakni 'berat sama dipikul, ringan sama dijinjing'. Hal itu menggambarkan bagaimana masyarakat sekitar bersama-sama membantu memperbaiki rumah Sugiyah, kepedulian dan semangat gotong royong seperti ini harus terus dirawat.
“Manfaat yang dirasakan dengan adanya sinergi bersama KBB jauh lebih besar dibandingkan melaksanakannya sendiri. Semoga dengan adanya bantuan program Rumah Harapan yang diberikan dapat meringankan beban Ibu Sugiyah dan kedepannya semakin banyak masyarakat yang dapat terbantu dan merasakan manfaat. Terima kasih kepada para donatur yang terus mengamanahkan zakat san infaqnya,” katanya dikutip dari rilis. (TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/proses-renovasi-rumah-lansia-sugiyah-56-tahun-warga-asal-desa-argorejo.jpg)