Bisnis

Pertumbuhan Ekonomi DIY Triwulan Kedua Mengalami Kontraksi 6,74 persen

Badan pusat statistik (BPS) DIY mencatatkan pertumbuhan ekonomi provinsi Yogyakarta pada triwulan kedua mengalami kontraksi sebesar 6,74 persen.

Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Ari Nugroho
Intisari
ilustrasi 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Badan pusat statistik (BPS) DIY mencatatkan pertumbuhan ekonomi provinsi Yogyakarta pada triwulan kedua mengalami kontraksi sebesar 6,74 persen.

Padahal, pertumbuhan ekonomi pada periode yang sama tahun 2019 tumbuh positif senilai 6,77 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Heru Margono mengatakan, kontraksi dipicu oleh penurunan kinerja di sembilan kategori usaha.

Rata-rata imbas dari pandemi Corona yang mulai terdeteksi di provinsi Yogyakarta pada Maret 2020 lalu.

Stabilitas Terjaga, OJK Optimalkan Kebijakan Pemulihan Ekonomi Nasional

"Kontrasi terjadi karena melemahnya beberapa industri ekonomi di DIY seperti, penyedia akomodasi dan makan minum yang tumbuh negatif sebesar 39,34 persen, disusul transportasi dan pergudangan terkontraksi sebesar 34,40 persen, dan sektor konstruksi yang juga tumbuh negatif senilai 22,18 persen," jelasnya melalui kanal resmi humas BPS DIY, pada Rabu (05/08/2020).

Namun, beberapa sektor usaha masih ada yang mampu tumbuh tinggi seperti sektor informasi dan komunikasi yang tumbuh positif sebesar 20,74 persen.

Lalu jasa kesehatan dan kegiatan sosial 17,91 persen, dan pertanian sebesar 10,06 persen.

"Andil pertumbuhan terbesar pada triwulan kedua dikuasi sektor infomasi dan komunikasi yang sejalan dengan kebijakan diberlakukannya work from home (WFH) dan learn from home (LFH) yang masih berlanjut hingga sekarang," ujarnya.

Kemudian, lanjut Heru, meskipun sektor usaha pada jasa kesehatan dan dan kegiatan sosial serta pertanian ikut tumbuh positif ternyata tidak mampu mendongkrak perekonomian DIY dalam memberikan kontribusi yang siginifikan.

Dukung Upaya Pemulihan Ekonomi, PLN Siap Jalankan Stimulus dari Pemerintah

Sementara itu, dari sisi pengeluaran terjadinya kontraksi pertumbuhan ekonomi terutama disumbangkan oleh ekspor luar negeri sebesar 34,24 persen dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yaitu sebesar 19,26 persen.

Kemudian, diikuti pengeluaran konsumsi rumah tangga yang terkontraksi sebesar 3,31 persen, dan pengeluaran konsumsi pemerintah yang juga tumbuh negatif senilai 0,83 persen.

"Imbas pandemi yang berkempanjangan, komponen ekspor luar negeri mengalami kontraksi paling dalam akibat perlambatan perekonomian global terutama pasar ekspor. Harapannya, dengan mulai dibukanya aktivitas ekonomi pada adaptasi kebiasaan baru dapat memulihkan perekomian DIY secara berangsur,"pungkasnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved