Tol Yogyakarta-Bawen Trabas Mayoritas Pemukiman Warga Desa Margomulyo Sleman
ada 106 bidang terdampak di Desa Margomulyo dengan luas 26.681 meter persegi. Desa Margomulyo, Kecamatan Seyegan.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
TRIBUNjogja.com SLEMAN -- Sosialisasi pembangunan jalan Tol Yogyakarta-Bawen dilanjutkan lagi.
Kali ini giliran masyarakat dari Desa Margomulyo, Kecamatan Seyegan.
Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispertaru) DIY Krido Suprayitno menjelaskan, untuk data awal ada 106 bidang terdampak di Desa Margomulyo dengan luas 26.681 meter persegi.
Menurutnya, kompleksitas di Margomulyo juga terbilang tinggi karena mayoritas yang terdampak adalah area pemukiman warga.
"Dan disini nampaknya banyak rumah untuk kos atau dikontrakan, sehingga tugas kita untuk melacak pemiliknya dalam kurun waktu satu bulan. Setelah itu baru masuk tahapan konsultasi publik," ujarnya usai hadir dalam sosialisasi di Balai Desa Margomulyo, Senin (27/7/2020).
Krido menekankan perlu adanya validasi data agar tidak terjadi salah nama atau salah alamat.
Salah satu kesalahan nama adalah rumah milik tim persiapan yang beralamat di Margomulyo dan kebetulan juga terdampak pembangunan tol.
"Rumah milik tim persiapan juga terkena dan dia memberikan contoh, ketika ada kesalahan dia memberikan masukan ke tim persiapan," ujarnya.
Adapun salah seorang tim persiapan yang terdampak adalah Dewo Isnu, yang juga merupakan Kepala Biro Hukum DIY.
Dewo yang memiliki rumah di perumahan Puri Margomulyo Asri harus merelakan rumahnya untuk pembangunan jalan Tol Yogyakarta-Bawen .
Dan karena merupakan warga terdampak, ia pun kerap memberikan pengarahan ke masyarakat lain dan memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan masyarakat.
"Kebetulan di satu sisi saya tim, dan satu sisi saya juga terdampak. Saya selaku warga terdampak, dari awal sudah sosialisasi dengan teman-teman lain yang terdampak, agar masyarakat bisa memahami, mendukung dan tidak terprovokasi," ujarnya.
Dari kacamatanya, pembangunan jalan tol ini bisa berpotensi masuknya pihak luar untuk mempengaruhi warga.
"Untuk menanggulangi kita terbuka, saya selaku kepala biro hukum dan masyarakat terdampak siap menerima keluhan dari teman-teman," terangnya.
Ia mengungkapkan bahwa kekeliruan di data awa adalah hal yang wajar karena data tersebut bukan berasal dari padukuhan namun dari konsultan yang belum cek lapangan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/sosialisasi-desa-dan-kecamatan-yang-terdampak-jalur-tol-bawen-yogyakarta-mulai-november.jpg)