Bisnis

Imbas Pandemi, Perusahaan Ini Rasakan Lesunya Bisnis Properti di Yogyakarta

Staf Pemasaran PT Maro Anugrah Jaya, Tommy Dwi Putra (27) mengatakan, imbas pandemi Corona sangat mempengaruhi iklim bisnis properti khususnya di wila

Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Ari Nugroho
glynniscoxrealtor.com
ilustrasi 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pandemi Corona berdampak pada sejumlah sektor bisnis, termasuk bidang properti.

Satu diantaranya perusahaan pembangunan perumahan, PT Maro Anugrah Jaya yang berlokasi di Jalan Titi Bumi, Gamping, Sleman.

Staf Pemasaran PT Maro Anugrah Jaya, Tommy Dwi Putra (27) mengatakan, imbas pandemi Corona sangat mempengaruhi iklim bisnis properti khususnya di wilayah Yogyakarta.

"Sangat berdampak sekali, penurunan minat konsumen pun cukup terasa. Di mana pada tahun 2019 sekitar 900 unit rumah subsidi bisa laku terjual. Namun, sekarang rentang periode Januari hingga Juli 2020 ini , hanya 25 unit rumah kelas menengah saja yang laku terjual," jelas Tommy kepada TRIBUNJOGJA.COM, pada Senin (27/07/2020).

Dampak Pandemi Covid-19, Penjualan Properti di DIY Turun Sekitar 50 Persen

Adapun, jenis rumah yang diperjual belikan di PT Maro Anugrah Jaya meliputi rumah kelas subsidi, kelas menengah, dan kelas menengah atas.

Tommy menuturkan, padahal tahun ini target rumah yang sudah disediakan untuk kelas menengah mencapai 100 unit.

Namun, hingga Juli 2020 masih 25 rumah saja yang laku terjual.

"Untuk rumah kelas menengah proyeknya mulai dipasarkan pada Januari 2020, masa itu tahap awal kami jual 20 unit habis laku terjual. Namun, memasuki Maret 2020 ketika hendak melakukan penjuala rumah tahap kedua hanya 5 unit saja yang laku hingga akhir Juli ini, belum ada penambahan," ujarnya.

Tak hanya itu, kendala bisnis properti pun semakin bertambah dikala para konsumen kesulitan untuk membayar cicilan per bulannya.

Di mana, lanjut Rommy, masih banyak konsumennya yang mengalami kendala dalam pembayaran.

Rata-rata konsumen yang membeli rumah subsidi.

"Untuk pembayaran cicilan biasanya kami beri waktu hingga 12 bulan lamanya. Sehingga, rata-rata konsumen yang membeli rumah pada tahun 2019 yang mengalami kesulitan pembayaran. Sekitar 70 persen konsumen meminta keringanan pembayaran cicilan rumahnya," terangnya.

3 Tantangan Utama Pengembangan Vaksin Covid-19

Sementara itu, rumah yang paling banyak pemintanya, tutir Rommy, biasanya didominasi kelas menengah dan subsidi.

"Kalau kami kan perumahan yang dibangun di daerah Bantul, biasanya yang laling laku itu rumah range harga Rp130- Rp150 juta untuk rumah subsisdi. Dan Rp180-Rp200 juta per unitnya untuk segmen kelas menengah. Sedangkan, untuk kelas menengah atas dengan range harga Rp380 juta- Rp500 juta per unitnya sangat sedikit peminatnya," terangnya lagi.

Rommy menjelaskan, saat ini rumah subsidi persediaannya sudah habis. Kini, pihaknya hanya menjual rumah kelas menengah dan menengah atas. (TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved