Dermawan Ini Salurkan Bantuan untuk Lasiyo Warga Gunungkidul yang Kini Hanya Bisa Terbaring Lemah
Bapak dua anak ini memang divonis lumpuh total serta tangan kirinya pun telah diamputasi akibat kecelakaan yang dialaminya
TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Empat tahun lamanya, Lasiyo (45), warga RT 14 RW 03 Dusun Dawung, Kelurahan Serut, Kecamatan Gedangsari, Gunungkidul hanya bisa terbaring lemah di atas tempat tidurnya.
Bapak dua anak ini memang divonis lumpuh total serta tangan kirinya pun telah diamputasi akibat kecelakaan yang dialaminya.
Sebelumnya, Lasiyo sehari-hari bekerja sebagai seorang buruh bangunan untuk menafkahi keluarganya.
Namun, peristiwa nahas empat tahun silam telah mengubah jalan hidupnya.
Istri Lasiyo, Sukati, menceritakan kejadian pahit tersebut terjadi empat tahun lalu saat suaminya mengerjakan pekerjaan untuk perbaikan instalasi listrik di luar Yogyakarta.
Tanpa sengaja, tangan Lasiyo memegang kawat listrik bertegangan tinggi, ia tersengat cukup lama, bahkan cukup lama kabel tegangan tinggi itu menempel di tangannya.
Hal itu membuat lengannya menjadi lengket, dan segera buruh bangunan lainnya menolong dan melarikannya ke Rumah Sakit terdekat.
"Itu terjadi tahun 2016 lalu saat bekerja," terang Sukati.
Menurutnya, Lasiyo saat ini juga masih rutin menjalani kontrol kesehatan.
Selain kontrol rutin ke RS Panti Rapih maupun RS Bhayangkara, setiap dua hari sekali ada perawat datang di rumah.
Suaminya kadang-kadang masih merasakan pusing serta kakinya ngilu.
“Iya, cuma di tempat tidur. Bisa duduk tapi nggak kuat lama,” ujarnya.

Kini, bersama dua putranya, Sukati dengan sabar merawat suaminya di rumah yang terletak di lereng bukit.
“Ini bukan rumah saya. Punya kakak. Numpang. Rumah saya di bawah sana sudah nggak ada lagi. Cuma lantainya,” ungkapnya.
Dalam kondisi fisik yang serba terbatas itu, ia juga masih mengalami kesulitan ekonomi.
Keluarganya Lasiyo merupakan tunawisma, dan hanya tinggal di rumah saudaranya.
Itupun rumah yang sebenarnya tergolong Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Bangunan tembok rumah masih batokanan saja, usuk dari bambu sebagai atap rumah banyak yang sudah gapuk dan bergelombang.
Tidak ada meja kursi di ruang tamu, sebagian ruang hanya ditutup menggunakan korden untuk kamar tidur dan menumpuk baju.
Menengok ke bagian belakang, sarana tempat mandi cuci kalkus (mck) juga jauh dari kata layak.
Termasuk pula kamar tidur yang ditempati Lasiyo yang terbuat dari papan kayu, dan di bagian atap kamar dipasangi lembaran kain untuk menahan kotoran yang jatuh dari atas rumah.
Kondisi memprihatikan dari keluarga Lasiyo inipun menggugah Yuni Astuti, sosok dermawan yang tergerak untuk memberikan bantuan pada keluarga tersebut.
Ia mengantarkan beragam perabotan rumah tangga. Semuanya baru. Sebagian bahkan masih terbungkus plastik dari toko.
Ada satu set meja tamu, kursi dan lain-lain. Juga ranjang tidur gres beserta bantal, guling maupun sprei.
Tak hanya itu, segepok uang tunai pun diberikan kepada keluarga Pak Lasiyo.
Diketahui, Yuni Astuti merupakan wanita bermasker yang belakangan sempat viral lewat aksinya bagi-bagi uang dari atas mobil Hummer.
Istri Ketua MPW Pemuda Pancasila DIY, Faried Jayen, itupun meneteskan air mata saat melihat langsung kondisi Lasiyo dan keluarganya.
Ketua Badan Pengusaha Pemuda Pancasila (BPPP) DIY itu menyampaikan pesan agar istri dan anak-anaknya tetap sabar dan tawakal menerima cobaan dari Allah SWT.
“Semangat ya. Lebih sabar ya merawat Bapak. Pahalanya kan juga untuk njenengan. InsyaAllah,” ucap Yuni.
Jika saja kondisinya memungkinkan, Yuni Astuti mengaku tidak keberatan mengajak pihak-pihak lain untuk membangun kembali rumah Lasiyo.

"Syukur kalau punya rezeki saya beli materialnya, nanti teman-teman (Pemuda Pancasila) yang membangun. Hanya saja kalau bisa dibangun di lahan yang lebih strategis, karena sebenarnya dibutuhkan bantuan untuk membuka usaha keluarganya," terang Yuni.
Yuni juga kembali menegaskan, aksi sosial kali ini murni kegiatan kemanusiaan. Sama sekali tidak bermuatan politis.
Adapun Faried Jayen menegaskan, para Pemuda Pancasila harus punya hati namun tidak boleh gembeng (cengeng).
Mereka juga harus bersedia membantu masyarakat berdasarkan kemampuan masing-masing.
“Semampunya kita bantu masyarakat karena kita ada di masyarakat. Gedangsari ini hanya salah satu contoh bentuk kepedulian Pemuda Pancasila kepada sesama,” kata Jayen.
Kedatangan Yuni Astuti didampingi suami dan putranya serta para Pemuda Pancasila.
Pasukan berseragam loreng oranye hitam turut masuk rumah menata perabotan.
Dengan cekatan, tempat tidur nyaris lapuk ditindih kasur usang berlapis galar itu dikeluarkan dari kamar ukuran 2,5 x 3 meter.
Lasiyo terlihat lebih nyaman berbaring di atas ranjang barunya. (*)