120 Petugas Pemutakhiran Data Pemilih di Bantul Diganti Setelah Dinyatakan Reaktif saat Rapid Test

PPDP yang dinyatakan reaktif itu berasal dari beberapa kecamatan, seperti Banguntapan, Kasihan, lalu Sewon

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM / Azka Ramadhan
Suasana rapid test massal di Pasar Gatak, Bantul, Kamis (9/7/2020). 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Sedikitnya 120 Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (PPDP) untuk Pilkada 2020 Kabupaten Bantul harus diganti, menjelang pencocokan dan penelitian (coklit) data pemilih, setelah dinyatakan reaktif rapid test.

Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih dan SDM KPU Bantul, Musnif Istiqomah, mengatakan tahapan coklit data pemilih tersebut, dijadwalkan bakal digelar oleh KPU pada rentang waktu 15 Juli-13 Agustus mendatang.

"Jadi, dari 2.081 PPDP, ditemukan sekitar 120 yang harus diganti karena reaktif saat menjalani test cepat massal. Mereka langsung diganti," katanya, Senin (13/7/2020).

Bahkan, ia menambahkan, jumlah PPDP yang diganti itu sangat mungkin bertambah.

Pasalnya, sampai sejauh ini, masih ada beberapa kecamatan yang belum, atau masih melangsungkan test cepat massal untuk petugasnya.

"Untuk sementara, PPDP yang dinyatakan reaktif itu berasal dari beberapa kecamatan, seperti Banguntapan, Kasihan, lalu Sewon juga," ungkapnya.

Sementara Ketua KPU Bantul, Didik Joko Nugroho berujar, kewajiban menjalani tes cepat untuk PPDP ini sesuai surat KPU RI Nomor 540/PP.04.2-SD/01/KPU/VII/2020, yang juga mengatur langkah penggantian petugasnya.

"Jika hasil pemeriksaan tes cepat calon PPDP dinyatakan reaktif, maka diusulkan kembali calon pengganti, dengan terlebih dahulu melakukan rapid test," terangnya.

Didik menyatakan, kegiatan tes cepat bagi para PPDP ini bertujuan untuk melindungi penyelenggara, serta pemilih, terutama saat memasuki tahap pencocokan dan penelitian data pemilih karena dimungkinkan terjadi tatap muka.

Menurutnya, coklit nanti tetap dilaksanakan dari rumah ke rumah seperti biasa.

Namun, karena berlangsung di tengah situasi pandemi, maka petugas tidak akan masuk ke dalam rumah, sekaligus membatasi waktu tatap mukanya.

"Saat melakukan coklit, PPDP juga akan dibekali dengan APD (alat pelindung diri) berupa masker, pelindung wajah dan sarung tangan sekali pakai. Ini sudah sesuai prosedur protokol kesehatan," pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved