Stok Pangan untuk Wilayah DIY Dipastikan Aman, Bahkan Cenderung Surplus

Hal ini lantaran beberapa petani yang telah panen menggunakan berasnya untuk mencukupi kebutuhan pangan sehari-hari.

Tayang:
Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Kurniatul Hidayah
Kepala Dinas Pertanian DIY, Arofah Noor Indriani 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Stok pangan di DIY dipastikan aman selama satu tahun ini.

Salah satu contohnya adalah ketersediaan beras di masa pandemi sekaligus menghadapi kemarau 2020 mendatang.

Kepala Dinas Pertanian DIY, Arofah Noor Indriani, menjelaskan bahwa untuk stok beras yang ada di masyarakat sangat mencukupi.

Hal ini lantaran beberapa petani yang telah panen menggunakan berasnya untuk mencukupi kebutuhan pangan sehari-hari.

"Misal di Gunungkidul hampir semua panen dipakai sendiri. Kalau (kabupaten) yang lain ada sisa, dijual. Ini dari data analisis tadi masih aman," urainya seusai audiensi dengan Wagub DIY KGPAA Paku Alam X, di Pare Anom Kompleks Kepatihan, Jumat (10/7/2020).

Arofah menambahkan, pihaknya menghitung bahwa kebutuhan beras setiap orang per tahun di DIY adalah 88 kilogram.

Angka disebut digunakan sebagai acuan untuk menghitung kebutuhan penduduk DIY, wisatawan, serta mahasiswa maupun pendatang yang berdomisili di DIY.

"Kalau kami total masih plus. Biasanya kita surplus. Kita sudah meningkatkan produksi terus, panen ke mana-mana. Kami support petani terus memproduksi komoditas yang bisa ditanam," ucapnya.

Arofah mengatakan bahwa saat ini Pemda DIY memiliki cadangan beras sekitar 215 ton yang dititipkan di BUMD yakni Tarumartani.

Selain beras, ia menyebut komoditas lain yang jadi kebutuhan pangan di DIY masih aman misal jagung, cabai, dan seterusnya.

"Ada yang cukup 5-9 Minggu. Tergantung komoditasnya. Data kami tercatat mingguan," tutur Arofah.

Selanjutnya ia menjelaskan bahwa selalu memantau persediaan stok di podagang baik retail maupun gudang, di Gapoktan hingga diperoleh data ketersediaan atau stok pangan berupa data gabungan.

"Gabungan data dari produksi di petani, data di Bulog, ditambah data di Gapoktan yang mengikuti program pemerintah, data di cadangan pangan kami yang titipkan di Bulog dan BUMD, data di pedagang semua kami rangkum sehingga (kelihatan) ketersediaan pangan di DIY aman dibanding kebutuhan," tuturnya.

Perhitungan ketahanan pangan nantinya akan menjadi salah satu data yang masuk dalam sistem Big Data.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved