Breaking News:

Perbandingan Penggembungan Tubuh Gunung Merapi Pada 2006, 2010, dan 2020 Menurut BPPTKG

Deformasi di gunung api merupakan salah satu fenomena yang biasa terjadi pada gunung api aktif

Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Setya Krisna Sumargo
Kubah lava Gunung Merapi 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Gunung Merapi saat ini masih mengalami deformasi (perubahan bentuk pada permukaan tubuh gunung api) sejak terjadinya letusan eksplosif terakhir pada 21 Juni 2020 lalu.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta menyebutkan total deformasi sejak 22 Juni 2020 hingga 9 Juli 2020 adalah sebesar lebih kurang 7 cm di sektor barat laut.

Laju deformasi itu sendiri dilaporkan adalah 0,5 cm per hari.

“Deformasi di gunung api merupakan salah satu fenomena yang biasa terjadi pada gunung api aktif,” ujar Kepala BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida, Jumat (10/7/2020).

Penjelasan BPPTKG Soal Dua Kemungkinan Penggembungan Gunung Merapi Saat Ini

Gunung Merapi Memasuki Fase Intrusi Baru, BPPTKG Sebut Belum Ada Bahaya Namun Harus Tetap Waspada

Ia menerangkan, satu bulan menjelang erupsi Gunung Merapi 2006 terjadi deformasi total sebesar 130 cm di sektor selatan yang memiliki laju 4 cm per hari.

Sementara, pada erupsi 2010, sejak satu bulan sebelumnya terjadi deformasi sebesar 300 cm di sektor selatan dengan laju 10 cm per hari.   

“Erupsi 2010 merupakan erupsi yang besar, sehingga deformasinya tercatat sangat besar. Perilaku deformasi yang terjadi saat ini lebih mengikuti perilaku deformasi menjelang erupsi 2006, sehingga perilaku erupsi nantinya diperkirakan akan mengikuti perilaku erupsi 2006,” tutur Hanik.

Gunung Merapi erupsi pada Minggu (21/6) pagi sekitar pukul 09.13 WIB
Gunung Merapi erupsi pada Minggu (21/6) pagi sekitar pukul 09.13 WIB (Twitter BPPTKG Yogyakarta)

Ia menambahkan, aktivitas Gunung Merapi dipantau dengan berbagai macam metode dan peralatan, misalnya metode seismik, deformasi, geokimia, dan lain-lain.

Metode deformasi merupakan metode untuk mengetahui perubahan bentuk tubuh gunung akibat aktivitas magma.

Salah satu cara untuk mengukur deformasi adalah dengan menggunakan metode Electronics Distance Measurements (EDM).

Deformasi Gunung Merapi Dinilai Cukup Besar, Terbentuknya Kubah Lava Bisa Jadi Indikator

Pemda DIY : Belum Ada Peningkatan Status Merapi

Prinsip kerja metode ini adalah alat akan memancarkan sinar inframerah ke reflektor yang dipasang di tubuh gunung api, lalu reflektor akan memantulkan kembali sinar tersebut ke alat.

“Jarak antara alat dan reflektor di tubuh gunung diukur setiap hari, sehingga jika ada penggembungan (inflasi) dapat terdeteksi,” imbuhnya.

Tak lupa, Hanik menyampaikan bahwa potensi ancaman bahaya saat ini berupa luncuran awan panas dari runtuhnya kubah lava dan lontaran material akibat erupsi eksplosif.

Rekomendasi jarak bahaya dalam radius 3 km dari puncak Merapi. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved