Pembangunan Tol Solo - Yogya Diminta Perhatikan Nasib Petani

Isu pertanian lestari menjadi persoalan dominan dibicarakan tidak saja menyangkut keberadaan jalur irigasi dan sumber air

Tayang:
Penulis: Victor Mahrizal | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUN JOGJA/ VICTOR MAHRIZAL
Sidang Komisi Andal Jawa Tengah dengan jajaran Pemkab Klaten terkait Proyek jalan tol Solo - Yogyakarta di Ruang Video Conference Dinas Komunikasi Informatika, Klaten, Rabu (17/6/2020). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Victor Mahrizal

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Sidang Komisi Amdal Jawa Tengah dengan jajaran Pemkab Klaten secara  virtual  membahas analisis dampak lingkungan  dari pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) jalan tol Solo - Yogyakarta berlangsung interaktif di Ruang Video Conference  Dinas Komunikasi Informatika, Klaten, Rabu (17/6/2020). 

Isu pertanian lestari menjadi persoalan dominan dibicarakan tidak saja menyangkut keberadaan jalur irigasi dan sumber air, tapi juga nasib petani yang mungkin harus kehilangan mata pencaharian.

“Lereng Merapi itu menjadi daerah tangkapan air dari atas untuk memenuhi pengairan lahan pertanian. Air menjadi sumber kehidupan petani. Maka pembangunan tol ini diharapkan menjamin keberlangsungan pasokan air bagi masyarakat,” jelas Sekretaris Daerah Klaten, Jaka Sawaldi, saat memimpin perwakilan pemerintah dan masyarakat dalam sidang amdal yang mendengarkan penjelasan konsultan PT Adi Karya selaku pelaksana proyek.

Sidang itu sendiri dihadiri 10 camat, 48 kepala desa dan 8 tokoh masyarakat terbagi dalam empat titik lokasi.

Tiga titik lokasi bertempat di Aula Kecamatan Delanggu, Kecamatan Klaten Utara, Kecamatan Jogonalan dan sentral di Ruang Vidcom Dinas Kominfo Klaten yang dipimpin Sekretaris Daerah Jaka Sawaldi. 

Sidang amdal sesi satu bertujuan untuk menampung aspirasi masyarakat terdampak proyek tol sepanjang 35,6 Km meliputi trase Jawa Tengah dan Yogyakarta yang melintasi 3 kabupaten.

Aspek ekonomi ditambahkan Jaka Sawaldi juga tidak kalah penting menyangkut alur distribusi sayur dari lereng Merapi yang menjadi sumber kebutuhan masyarakat. 

Diharapkan akses jalan distribusi itu juga diperhatikan juga jalur truk pengangkut material pasir.

“Setiap hari ada 2.000 truk pasir yang beroperasi di Klaten.  Bagaimana nanti pembangunan tol itu tidak mengganggu jalur angkutan pasir.  Belum lagi dampak pengurangan lahan pertanian.  Tentunya hal ini akan berpengaruh langsung terhadap petani seperti jatah bantuan pupuk akan berkurang.  Belum lagi petani yang terpaksa kehilangan mata pencaharian.  Hal ini sangat penting untuk menjadi masukan,“ jelas Jaka Sawaldi.

Tidak jauh berbeda diungkapkan Tugiran (58) warga Duwet, Kebonarum, Klaten. Di desanya ada sumber air yang bakal terkena lintasan jalan tol

Biarpun  sumber air itu tidak besar, tapi  ketika musim kemarau sangat membantu kebutuhan pasokan air bagi petani.

“Di desa kami itu ada sumber mata air yang sangat dibutuhkan petani.  Hampir 35 % petani sangat tergantung pada mata air ini dan dampaknya akan terasa,”ungkapnya.

Termasuk yang banyak dipikirkan masyarakat, kata Tugiran adalah nasib pemakaman warga. Pemakaman ini bagi warga adalah terkait dengan nasib leluhurnya. Belum lagi jika pembangunan tol nanti harus membelah dua dukuh. Harapannya adanya jalan penghubung itu akan membantu warga dalam berinteraksi. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved