Breaking News:

Di Filipina, Batalkan Pesanan Makanan Online Bisa Dipenjara 6 Tahun atau Didenda Rp28 Juta

Ancaman hukuman berat diberlakukan bagi mereka yang membatalkan pesanan lewat aplikasi pengiriman online di Filipina.

Penulis: Joko Widiyarso | Editor: Joko Widiyarso
ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM - Ancaman hukuman berat diberlakukan bagi mereka yang membatalkan pesanan makanan lewat aplikasi pengiriman online di Filipina.

Menurut Daily Mail yang mengutip Coconuts, pembeli dapat menghadapi setidaknya enam tahun penjara setelah rancangan undang-undang untuk mencegah pembatalan pengiriman yang tidak disebut tak bermoral, yang diajukan minggu lalu.

Dengan begitu, setelah RUU disahkan, siapapu orang di Filipina yang membatalkan pesanan pengiriman setelah pengemudi membayar bahan makanan, bisa terkena denda berat dan hukuman penjara.

Setelah permintaan untuk layanan pengiriman meningkat setelah penguncian coronavirus, beberapa pelanggan telah mengerjai pengemudi ojek online dengan membatalkan pesanan sebelum membayar hingga memaksa pengemudi untuk membayar tagihan.

Menurut Coconuts, Undang-undang Perlindungan Layanan Pengiriman Makanan dan Bahan Makanan dikirim ke Dewan Perwakilan Rakyat Filipina pada 4 Juni.

Berdasarkan undang-undang tersebut, siapa pun yang dinyatakan bersalah atas pelanggaran tersebut harus mengganti biaya driver atau pengemudi ojek online untuk pesanan yang dibatalkan dan membayar denda PHP 100.000 (£ 1.579) atau sekitar Rp28 juta.

“Ini mencakup contoh di mana pelanggan memesan makanan dan atau bahan makanan untuk tujuan mengerjai atau mereka yang tidak memiliki niat tulus untuk memanfaatkan layanan yang menyebabkan kerusakan dan tekanan yang tidak semestinya kepada Penunggang Pengiriman dan layanan terkait mereka,” bunyi RUU tersebut.

Bicol AKO Perwakilan Partai Demokrat, Alfredo Garbin, ingin agar RUU itu mencegah pengemudi atas pembatalan pengiriman oleh orang yang tidak bermoral yang tidak masuk akal, tanpa basa-basi, dan tanpa sadar membatalkan pesanan mereka.

Pelanggan yang dipaksa menunggu lebih dari satu jam untuk makanan mereka, dan mereka yang membayar di muka tidak akan dihukum.

Tetapi mempermalukan pengemudi pengiriman online dapat mengakibatkan hukuman penjara enam tahun, menurut RUU tersebut.

Sekolah masih tutup
Itu terjadi setelah Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyatakan anak-anak tidak akan kembali ke sekolah sampai vaksin coronavirus ditemukan.

Terungkap, Presiden Filipina Rodrigo Duterte Pernah Jadi Gay Lalu 'Disembuhkan' Seeorang Perempuan'.
Terungkap, Presiden Filipina Rodrigo Duterte Pernah Jadi Gay Lalu 'Disembuhkan' Seeorang Perempuan'. (AFP/NOEL CELIS)
Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved