Perempuan di Korea Utara Dilarang Pakai Lipstik Merah. Ini Alasannya
Perempuan mana yang tidak ingin tampil cantik? Perona wajah hingga pemerah bibir adalah dua barang yang setidaknya ada di tas perempuan. Akan tetapi,
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA.COM, SEOUL - Perempuan mana yang tidak ingin tampil cantik? Perona wajah hingga pemerah bibir adalah dua barang yang setidaknya ada di tas perempuan.
Akan tetapi, hal ini sedikit berbeda dengan keadaan di Korea Utara. Di sana, bagi perempuan muda, menjadi cantik adalah pemberontakan terhadap negara.
Dikisahkan Kang Nara, blogger kecantikan asal Korea Utara yang kini menetap di Korea Selatan, perempuan di negara asalnya dilarang menggunakan riasan atau make up.
Kang Nara memakai lipstik merah koral dan dengan lembut mengoleskan perona oranye ke pipinya, kilau putih menyapu di bawah matanya berbinar saat dia memiringkan kepalanya dalam cahaya.
Kang tidak akan pernah bisa melakukan ini di kampung halamannya di Chongjin, Provinsi Hamgyong Utara.
"Mengenakan lipstik merah tidak terbayangkan di Korea Utara," katanya seperti dilansir CNN.
"Warna merah melambangkan kapitalisme dan mungkin itulah sebabnya masyarakat Korea Utara tidak membiarkan Anda memakainya,” tambahnya lagi.
Kang sekarang tinggal di Seoul, Korea Selatan. Wanita 22 tahun itu melarikan diri dari Korea Utara pada 2015.
Ia tidak tahan dengan rezim yang membatasi kebebasan pribadinya, dari apa yang ia kenakan hingga bagaimana ia mengikat rambutnya.
Sebagian besar orang di kampung halaman Kang hanya diperbolehkan memakai warna terang di bibir mereka, terkadang merah muda tetapi tidak pernah merah, dan rambut panjang harus diikat rapi atau dikepang.
Jika Anda pernah menonton drakor ‘Crash Landing on You’, ada adegan dimana Yoon Se Ri mengepang rambut dan mengenakan pakaian sederhana.
Ia tak menggunakan tata rias apalagi produk perawatan wajah. Sebab, di Korea Utara memang tak boleh menggunakan produk luar negeri.
Kurang lebih, seperti itulah gambaran tinggal di negara tertutup tersebut.
Saat di negerinya, Kang akan berjalan melalui lorong-lorong, bukan jalan utama untuk menghindari bertemu dengan polisi mode Korea Utara.
"Setiap kali saya berdandan, orang-orang tua di desa akan mengatakan bahwa saya seorang budak kapitalisme," kenang Kang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/crash-landing-on-you-9.jpg)