Bisnis

Dampak Corona, UMKM di Yogyakarta Beralih Berjualan Makanan secara Daring

Imbas pandemi Corona membuat para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Yogyakarta harus beralih penjualan untuk menyambung hidup.

TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
Berita Kota Yogya 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Imbas pandemi Corona membuat para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Yogyakarta harus beralih penjualan untuk menyambung hidup.

Menurut, Kepala bidang Usaha Mikro Kecil (UMK), DinkopUMKNakertrans Kota Yogyakarta, Rihari Wulandari mengatakan, ada sekitar 217 UMKM di yogyakarta yang beralih penjualan karena produk aslinya tidak laku akibat wabah Corona.

"UMKM di Yogyakarta ada sekitar 26000 usaha di berbagai sektor. 4000 UMKM sudah memiliki izin usaha mikro (IUM). Akibat pandemi ternyata ada sekitar 217 UMKM yang beralih produksinya. Di mana 100 UMKM memilih produk makanan sebagai pengganti usaha sebelumnya sedangkan 117 usaha lagi memilih memproduksi APD covid-19," jelas Rihari kepada TRIBUNJOGJA.COM, beberapa hari yang lalu.

Pemberdayaan UMKM untuk Membantu Pengadaan APD

Satu diantaranya pelaku UMKM kerajinan kulit, Cristian Ningrum (44), pemilik Budiharjo Leatheart, Jalan Nyi Pembayun, Kecamatan Kotagede, Kota Yogya, yang terpaksa harus beralih menjadi penjual makanan secara daring.

"Saya mulai beralih berjualan makanan sejak Maret lalu, terpaksa menjadi penjual makanan, karena produk kulit peminatnya sedikit di tengah pandemi ini (Corona)," jelas Ningrum.

Saat menjual makanan, Ningrum menggunakan jejaring sosial media pribadinya yaitu WhatssApp.

Menurut Ningrum, penggunaan media WhatssApp dinilai lebih mudah. Karena pelanggannya dapat bertanya langsung mengenai produk yang dijual.

"Kalau berjualannya melalui WhatssApp karena lebih mudah saja interaksi dengan konsumen. Jadi kita sebar berupa poster digital melalui aplikasi tersebut, kalau ada yang minat tinggal hubungi, saja. Untuk saat ini, penjualan hanya menyediakan lauk-pauk," tutur Ningrum.

Sementara itu, Ningrum pun menerima pemesanan berskala besar. Harga produknya pun bervariasi mulai Rp35.000 hingga Rp100.000.

"Untuk pemesanan berskala besar juga saya terima. Biasanya pesanan berasal dari kantor-kantor yang ada di Yogyakarta, bisa pesan sampai 20 bungkus lauk-pauk per harinya," ungkap Ningrum.

UMKM Harus Jeli Mengambil Posisi di Tengah Pandemi Covid-19

Berjualan makanan, kata Ningrum, lumayan dapat mengurangi beban finansial untuk memenuhi kebutuhan keluarganya di tengah tekanan pandemi Corona.

Karena hingga kini, usaha kulit miliknya sudah tak berproduksi lagi.

"Penghasilan dari berjualan makanan memang tak seberapa, bila dibandingkan dengan penjualan produk kulit. Namun, saya tetap bersyukur karena hasilnya masih bisa memenuhi keperluan di rumah tangga," pungkas Ningrum. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Nanda Sagita Ginting
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved