Belajar dari Pandemi Virus Corona, Bek PSS Sleman Rambah Bisnis Kuliner untuk Investasi Masa Depan
Belajar dari Pandemi Virus Corona, Bek PSS Sleman Rambah Bisnis Kuliner untuk Investasi Masa Depan
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM - Pandemi virus corona mengubah wajah dunia dan mempengaruhi seluruh sendi kehidupan, tak tercuali sepak bola yang turut terimbas.
Bagaimana tidak? Kompetisi disetop, latihan tim di lapangan ditiadakan. Pemain hanya menjalani program latihan mandiri dari pelatih di rumah masing-masing.
Belum lagi kebijakan pembayaran gaji pun berubah. Pemain hanya dapat maksimal 25 persen saja selama masa darurat wabah.
Meski demikian, palang pintu PSS Sleman Asyraq Gufron Ramadhan tak lantas hanya meratapi keadaan.
Gufron memilih mengambil kesempatan yang ada, bukan untuk berkeluh kesah.
Selain rutin melakoni program latihan mandiri, Gufron mulai memikirkan investasi untuk masa depan, satu diantaranya yakni bisnis kuliner rumah makan di kota kelahirannya di Surabaya.
Eks bek Persis Solo ini mengungkapkan, ide tersebut tercetus lantaran sang ibunda jago memasak.
"Ibu saya jago masak dan enak sekali olahan masakannya. Sudah diakui banyak orang, jadi tidak ada salahnya akan saya maksimalkan membuka warung makan di rumah," kata Gufron.
• Inilah Hasil Rapat Virtual PSSI Bersama Kontestan Klub Liga 2 2020, Berikut Sikap PSIM Yogyakarta
• Selalu Berkomunikasi Cara Penggawa PSS Sleman Obati Kerinduan
Meski begitu, Gufron mengatakan rencana tersebut kemungkinan baru dapat terealisasi melalui penjualan online mengingat situasi saat ini di tengah pandemi.
"Setidaknya sudah mulai memikirkan ke depan. Artinya saya tidak akan tahu apakah selamanya bakal bekerja di lingkungan sepak bola," imbuhnya.
Di sisi lain, nasib kompetisi sepak bola tanah air pun masih tanda tanya.
Sebelumnya PSSI telah rapat virtual dengan Asosiasi Pelatih Sepakbola Seluruh Indonesia (APSSI), Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI), para klub Liga 1 dan Liga 2 2020, serta PT LIB juga sudah diajak rapat.
Hasilnya, sebanyak 11 klub dari 18 tim Liga 1 2020 ingin kompetisi tidak kembali dilanjutkan.
Sementara dari Liga 2 2020, ada 20 tim dari 24 klub yang ingin kompetisi kasta kedua Indonesia itu diputuskan selesai.
Nantinya, federasi sepak bola Indonesia itu akan memutuskannya setelah melakukan rapat Komite Eksekutif (Exco) PSSI yang belum tahu kapan dilakukan.
Mengenai nasib kompetisi, Gufron memiliki harapan tersendiri.
"Kompetisi jangan sampai dibubarkan, mundur lagi boleh. Tapi harapan saya ya jangan diundur terlalu lama.
Turnamen pengganti kompetisi, tidak masalah, kalau itu penggantinya, ya Alhamdulillah, bagus untuk kami seperti pemain," pungkasnya. (Tribunjogja/Hanif Suryo)