Asteroid Pemusnah Dinosaurus Ternyata Hantam Bumi dari Sudut Paling Mematikan

Tak cuma dinosaurus, sekira 75 persen kehidupan di Bumi pada saat itu juga turut lenyap setelah terkena dampak hantaman asteroid.

Penulis: Sigit Widya | Editor: Sigit Wdiya
iStock Photo
Asteroid hantam Bumi dan mengakibatkan kepunahan dinosaurus. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA -  Pada Zaman Kapur sekitar 66 juta tahun lalu, sebuah asteroid raksasa selebar 6,2 mil menabrak Semenanjung Yukatán di tenggara Meksiko dari sudut paling mematikan dan memusnahkan seluruh dinosaurus.

Menurut sebuah studi baru yang diterbitkan di Nature Communications, Selasa (26/5/2020) lalu, kehidupan dinosaurus sekarang masih akan ada jika asteroid raksasa yang menghantam Bumi tersebut datang dari sudut lain.

Asteroid yang mendarat dalam kondisi hancur di sebuah lokasi di tenggara Meksiko, yang sekarang dikenal sebagai kawah Chicxulub, dianggap oleh banyak ilmuwan sebagai penyebab utama di balik kematian semua dinosaurus.

Tak cuma dinosaurus, seperti dikutip Tribunjogja.com dari New York Post, Kamis (28/5/2020), sekira 75 persen kehidupan di Bumi pada saat itu juga turut lenyap setelah terkena dampak hantaman asteroid.

Laporan baru yang disusun oleh para insinyur dan ahli geologi dari Imperial College London, Universitas Freiburg, dan Universitas Texas di Austin tersebut adalah yang pertama mengungkap tahap akhir pembentukan kawah Chicxulub.

Para peneliti menggunakan simulasi 3D dari bentuk dan struktur lubang selebar 124 mil itu untuk menentukan bahwa asteroid berasal dari timur laut dengan sudut mematikan sekitar 60 derajat ke tanah.

 “Serangan asteroid melepaskan sejumlah besar gas yang mengubah iklim ke atmosfer, memicu serangkaian peristiwa yang mengakibatkan kepunahan dinosaurus. Serangannya berasal dari sudut paling mematikan,” kata ketua peneliti, Gareth Collins.

Para ilmuwan menjelaskan bahwa dampak serangan asteroid itu sendiri bukanlah yang paling dahsyat bagi Bumi.

Mereka mengatakan, serangan tersebut merupakan “bola salju” dari efek iklim yang menghancurkan yang mengikuti peristiwa itu dengan melepaskan miliaran ton batu yang menguap, belerang, karbon dioksida, serta uap air ke udara.

Saat itu, atmosfer dalam kondisi terengah-engah dan matahari menjadi tidak jelas selama sekitar 18 bulan sehingga waktu fotosintesis tanaman dan hewan tersendat, dan sebagian wilayah di Bumi terjadi musim dingin secara cepat. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved