Dalam Pertempuran Laut, Amerika Serikat Disebut Bakal Kewalahan Hadapi China
Kapal Induk AS, USS Theodore Roosevelt akan kembali berlayar pada pekan depan atau mulai bersiap akhir pekan ini, setelah hampir dua bulan absen.
Werner juga mengatakan armada kapal penangkap ikan China menuju semakin jauh ke arah selatan dalam lima tahun terakhir dari rantai pulau Paracel yang disengketakan di Laut China SElatan hingga Kepulauan Natuna dekat Malaysia dan Indonesia.
Werner menuduh Beijing melakukan perilaku pemaksaan, destabilisasi dan ekstraktif komersial di Asia Tenggara.
Sejak Theodore Roosevelt tiba di Guam, Angkatan Laut AS telah mengirim lebih banyak kapal perang ke Laut Cina Selatan di dekat pulau-pulau yang diperebutkan China dan Angkatan Udara telah menerbangkan pesawat pembom B-1.
Kapal serbu amfibi Amerika baru-baru ini bergabung dengan kapal penjelajah berpeluru kendali Bunker Hill serta kapal fregat Australia untuk operasi di Laut Cina Selatan.
Saat ditanya apakah Pentagon akan mendukung rencana anggota parlemen dari Partai Republik, Mac Thornberry untuk meluncurkan dana kontra-China baru senilai US$ 6 miliar per tahun, mirip dengan European Deterrence Initiative yang didirikan pada 2014 untuk melawan Rusia, Werner mengatakan, "Saat ini, kami mendiskusikan masalah ini di dalam departemen”.
AS akan kewalahan
Dalam sebuah laporan baru-baru ini di The Times, para pejabat pertahanan AS dikutip secara anonim mengatakan pasukan Amerika akan "kewalahan" menghadpai China dalam pertempuran laut dan tidak dapat menghentikan invasi ke Taiwan.
"Setiap simulasi yang telah dilakukan melihat ancaman dari China pada tahun 2030 semuanya berakhir dengan kekalahan A.S.," ujar Bonnie Glaser dari Pusat Pemikir Strategis dan Studi Internasional (CSIS) Washington mengatakan kepada The Times.
Ubah status quo
Amerika Serikat (AS) menuduh China menggunakan bentrokan perbatasan dengan India dan peningkatan aktivitas di Laut China Selatan untuk mencoba menggeser status quo.
Alice Wells, diplomat top AS untuk Asia Selatan, menarik kesejajaran antara pertikaian yang berkembang di wilayah Himalaya dan tahun-tahun Beijing dalam meningkatkan ketegasan di Laut China Selatan yang bersengketa.
"Bagi siapa pun yang berada di bawah ilusi bahwa agresi China hanya retorika, saya pikir mereka perlu berbicara dengan India," kata Wells di hadapan lembaga think tank Atlantic Council seperti dikutip Channelnewsasia.com.
"Jika Anda melihat ke Laut China Selatan, ada metode di sini untuk operasi China, dan itu adalah agresi konstan, upaya konstan untuk mengubah norma, untuk mengubah status quo. Itu harus dilawan," ujar Wells.
Tentara India dan China telah terlibat dalam banyak pertikaian dan bentrokan tingkat rendah di perbatasan mereka yang luas, termasuk perseteruan baru-baru ini di Nathu La Pass yang menghubungkan Negara Bagian Sikkim di India dan Tibet.
Dua negara terpadat di dunia ini telah lama mengalami ketegangan perbatasan dan terlibat perang singkat 1962, yang menghancurkan harapan Perdana Menteri pertama India Jawaharlal Nehru untuk solidaritas antara kekuatan-kekuatan Asia.
Klaim 90.000 km persegi
China masih mengklaim sekitar 90.000 kilometer persegi wilayah di bawah kendali New Delhi. Wells menegaskan, AS mendukung klaim India dan mendorong New Delhi dan Beijing untuk menyelesaikan masalah mereka secara diplomatis.
AS selama dua dekade telah membangun hubungan dekat dengan India, dan memiliki hubungan yang semakin sengit dengan China di berbagai bidang. Ketegangan Washington dan Beijing termasuk soal wabah virus corona baru.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/xi-jinping-dan-donald-trump.jpg)