Ramadan 2020

Pisang Ijo, Tajil Pemanis Rezeki Suryadi Selama Ramadan

Panganan khas Sulawesi Selatan, ini, umumnya disajikan dengan sirup khusus serta rajangan kacang tanah yang digoreng.

Tayang:
Penulis: Irvan Riyadi | Editor: Ari Nugroho
Istimewa
Suryadi, pedagang Pisang Ijo di Sekitar Pasar Lempuyangan 

Laporan Reporter Tribunjogja.com, Irvan Riyadi

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Pisang Ijo, salah satu menu buka puasa (takjil) yang cukup populer dan menjadi favorit.

Manisnya pisang berpadu dengan saus fla, sirup, serta susu kental manis, yang disajikan dingin, dirasa pas untuk berbuka puasa.

Tidak sekedar manis rasanya, ternyata, pisang ijo juga menjadi manis, sebagai rezeki tambahan bagi yang menjualnya.

Suryadi (60) misalnya, sudah 4 kali ramadhan, ia selalu berjualan pisang ijo di pasar ramadhan di sekitar pasar Lempuyangan, Yogyakarta.

Di tepi jalan depan pasar Lempuyangan, Yogyakarta, inilah, setiap sore selama ramadhan, ramai lapak-lapak pedagang takjil digelar, termasuk lapak milik Suryadi.

Dengan sebuah gerobak dorong, sekitar 50 porsi pisang ijo, setiap hari ia sediakan dan selalu laris terjual.

Resep dan Cara Membuat Es Pisang Ijo

Menurutnya, pisang ijo adalah menu yang cukup unik, dan cukup banyak penikmatnya.

“selama ini ya begitu, ada penikmatnya khusus, yang orang luar Jogja (perantau) juga banyak,” ujarnya kepada tribunjogja.com, Kamis (20/4/2020).

Ia menambahkan, puasa kali ini jumlah porsi dagangannya memang dikurangi dari puasa-puasa sebelumnya.

“Kalau dulu, bawanya 100-an masih laku keras. Sekarang, 50 sampai 60 lah, soalnya ya keadaannya memang sedang belum stabil,” tambahnya.

Jika bukan bulan ramadhan, Suryadi, sehari-harinya berjualan batagor dan siomay dengan berkeliling.

Namun, di lapak takjilnya, tidak ada menu lain. Tidak ada batagor, maupun siomay, hanya pisang ijo.

“Kalau ramadhan, fokusnya di sini jualan pisang ijo saja, tidak jualan yang lain, batagor juga libur, rezekinya kalau ramadhan dari pisang ijo soalnya,” ucapnya berseloroh.

 • LINK Siaran Live Streaming TVRI Tayangkan Program Belajar dari Rumah Jumat 1 Mei 2020, Ini Jadwalnya

Ia pun menyatakan, keuntungan dari berjualan pisang ijo, terasa lebih menjanjikan dibandingkan yang lain.

"Kalau ndak puasa, jualan keliling seharian, belum tentu laris. Jualan ini (pisang ijo), sekitar dua jam, nutup semua, alhamdulillah laris. Tapi kan karena momennya memang puasa," tambahnya.

Panganan khas Sulawesi Selatan, ini, umumnya disajikan dengan sirup khusus serta rajangan kacang tanah yang digoreng.

Terkait hal itu, Suryadi menuturkan, pisang ijo yang dijajakannya memang tidak akan sama dengan yang dikenal. Namun, baginya rasa intinya tidak hilang.

“Tahu saya kalau ada sirupnya yang khas. Tapi di Jogja tidak ada yang jual, yang penting rasa manisnya tetap mirip lah,” pungkas Suryadi.

Beberapa pelanggannya hari ini, ternyata memang merupakan orang-orang perantau, yang kebetulan adalah penikmat pisang ijo.

Sulfikar, misalnya. Pemuda asal Sulawesi, ini mengaku, memang mencari pedagang pisang ijo di beberapa tempat.

Hal itu, karena pisang ijo adalah salah satu menu berbuka favoritnya.

“Dua hari lalu, beli di daerah Gejayan, hari ini di sini. Menu andalan dari dulu soalnya,” ujar Sulfikar.

Senada dengan yang diungkapkan Suryadi, Sulfikar pun menyebutkan, jika sekalipun tidak persis sama dengan pisang ijo yang biasa dirasakannya di kampung halaman, namun setidaknya tidak menghilangkan rasa manis dari pisang dibalut kulit beraroma pandan, dengan saus fla yang manis.

“Beda sekali. Kalau biasanya harus pakai pisang Raja, kalau di sini pisangnya kadang beda, sirup juga beda. Tapi tidak apa, yang penting pisang ijo kan,” pungkas Sulfikar seraya pamit berlalu. (TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved