Pedagang Bunga Tabur di Pasar Beringharjo Yogyakarta Alami Penurunan Pembeli

Memasuki bulan Ramadan tak membuat penjualan bunga tabur meningkat. Namun, semakin mengalami penurunan pembeli.

TRIBUN JOGJA/NANDA SAGITA GINTING
Mbah Mardi (76), pedagang bunga tabur di pasar Beringharjo ketika dijumpai Tribunjogja.com, pada Minggu (26/4/2020). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pedagang bunga tabur di pasar Beringharjo tetap membuka lapaknya saat bulan Ramadhan, meski mengalami penurunan pembeli.

Penurunan pembeli bunga tabur sudah terjadi sejak awal April 2020 lalu, saat perayaan paskah dan terus berlanjut hingga memasuki bulan Ramadhan kali ini.

Mbah Mardi (76), seorang pedagang bunga yang ditemui Tribunjogja.com pada Minggu (26/4/2020), mengatakan penurunan sudah terjadi pada Awal April 2020.

"Penurunan mulai terasa pada awal April 2020, saat memasuki perayaan hari paskah. Biasanya permintaan bunga tabur akan tinggi. Namun, ternyata permintaan tak begitu banyak,"tuturnya.

Sementara itu, memasuki bulan Ramadan tak membuat penjualan bunga tabur meningkat. Namun, semakin alami penurunan pembeli.

"Hingga menjelang Ramadan, tak ada aktivitas yang menunjukan kenaikan pembelian bunga tabur. Padahal, saat Ramadan seharusnya peluang untuk menambah pemasukan," jelas Mardi.

Ia pun menambahkan, akibat virus Corona membuat masyarakat lebih mengutamakan memenuhi keperluan pokoknya seperti, makanan dan kepentingan kesehatan.

"Kondisi seperti ini, masyarakat mengutamakan keperluan pokoknya. Kalau urusan bunga pasti mereka (pembeli) memilih mengesampingkan dahulu,"terangnya.

Bunga-bunga tabur didapat dari petani bunga di daerah Magelang, Bandungan dan Boyolali.

Karena tak laku dijual, bunga pun telihat layu di dalam keranjang bambu.

"Ya, sudah pada layu karena tak ada yang membeli. Disusun ke dalam keranjang biar terlihat rapi. Biasanya menjelang Ramadan bisa habis terjual sekitar 50 keranjang. Sekarang terjual satu saja, senang rasanya," papar Mardi.

Setiap keranjang bunga tabur dihargai Rp10 ribu yang terdiri dari bunga mawar merah, putih dan melati.

"Harganya Rp10 ribu per keranjang. Namun, kondisi seperti ini tidak begitu mematok harga yang penting laku terjual,"ungkapnya.

Ia pun menambahkan, saat ini kerugian yang dialami mencapai 80 persen. Penurunan tertinggi bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Walaupun pada tahun lalu sempat alami penurunan tetapi kebutuhan masih bisa terpenuhi. Kalau sekarang sangat terpuruk,"pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved