Bingung, yang Sehat Harus Pakai Masker atau Tidak? Ini Isi Perdebatan Para Ahli
Perlu dipahami bahwa ada tiga jenis masker yang dikenal. Yakni masker N95, masker bedah dan masker kain yang dibuat rumahan
Penulis: Mona Kriesdinar | Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan supaya orang yang sehat tak perlu menggunakan masker di tengah pandemi Virus Corona ini. Anda bisa menggunakan masker jika sakit atau memiliki gejala COVID-19, atau bagi Anda yang merawat orang dengan gejala COVID-19. Hal itu dilakukan untuk memutus mata rantai penularan Virus Corona.
Sementara pendapat lainnya mengatakan bahwa Anda yang sehat pun sebaiknya menggunakan masker ketika berada di tempat umum.
Jadi mana yang benar, apakah semua orang harus menggunakan masker atau hanya digunakan oleh orang yang sakit?
Sebagaimana dilansir CNN Internasional dalam berita berjudul Debat Para Ahli Tentang Masker Virus Corona, Presiden AS Donald Trump juga menyarankan semua warga untuk menggunakan masker.
Ini disampaikannya lewat unggahan twitternya saat digelar rapat Gedung Putih pada Senin kemarin.
"Kita tidak akan mengenakan masker selamanya. Ini hanya sementara dan akan berakhir begitu keadaan kembali pulih," katanya.
Dr. Anthony Fauci, ahli penyakit menular AS mengatakan bahwa perdebatan ini juga terjadi di Gedung Putih.
Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular ini pun mengatakan bahwa satgas pencegahan Virus Corona di Gedung Putih.
"Ide penggunaan masker untuk masyarakat umum ini menjadi diskusi mendalam di Gedung Putih. CDC akan mencermatinya dengan hati-hati," katanya kepada CNN.
"Hal yang menjadi penekanan adalah bagaimana caranya supaya penggunaan masker secara luas nantinya tidak mempengaruhi persediaan masker petugas kesehatan yang membutuhkannya," tambah Fauci.
"Tapi ketika kita berada dalam situasi di mana persediaan masker mencukupi, maka saya percaya akan ada pertimbangan lainnya untuk memperluas penggunaan masker. Saya pikir AS akan mengeluarkan beberapa kebijakan terkait hal ini," tambahnya.
Sementara itu, banyak ahli kesehatan telah beralih ke media sosial untuk membuat argumen bagi publik untuk memakai masker. Hal ini menandakan adanya perubahan dalam beberapa pendapat medis seputar topik tersebut.
Dalam perdebatan itu ada yang perlu dipahami bahwa ada tiga jenis masker yang dikenal. Yakni masker N95, masker bedah dan masker kain yang dibuat rumahan.
"Masker N95 digunakan oleh petugas kesehatan yang berarti tak boleh digunakan secara umum," kata Dr James Phillips, analis medis CNN dan asisten profesor di George Washington University dalam acara New Day.
Masker ini digunakan untuk mencegah tertular dari pasien yang dirawatnya.
Namun lain cerita dengan masker bedah atau masker kain buatan rumahan.
"Itu dirancang untuk mecegah tetesan yang mungkin terinfeksi agar tidak keluar dari mulut dan hidung Anda sendiri kemudian menularkannya pada orang lain. Masuk akal jika semua orang, termasuk mereka yang mungkin menyebarkan virus, adalah mengenakan masker itu sebagai semacam perisai di wajah mereka untuk mencegah tetesan keluar ke udara, sehingga hal ini bisa membantu untuk membatasi penularan virus, "kata Philips pada Hari Baru.
Namun topeng kain tidak mencegah tenaga medis tertular dari pasien. Ini tidak akan berhasil, sehingga tenaga medis menggunakan masker khusus.
"Saya pikir CDC dan pemerintah federal pada akhirnya akan mengeluarkan rekomendasi bagi orang untuk memakai masker, khususnya untuk mencegah penyebaran tetesan," katanya.
Jadi pada intinya, katanya, masker kain boleh saja digunakan dan ini akan membantu membatasi tetesan ketika Anda batuk atau bersin. Dengan begitu bisa meminimalisir Anda menularkan penyakit pada orang lain. Namun untuk tenaga medis, digunakan masker khusus untuk mencegah dirinya tertular.
Senada, Dr Scott Gottlieb, mantan komisioner dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS, dalam sebuah unggahannya di Twitter pada hari Minggu kemarin mengatakan masker kain dapat digunakan untuk meningkatkan keamanan dan mengurangi penularan. Namun untuk produk rumahan harus mengikuti standar keamanan.
Langkah ini juga bisa membantu mengurangi kelangkaan stok masker medis yang dibutuhkan oleh tenaga di rumah sakit yang berhadapan langsung dengan pasien Virus Corona.
Sementara Direktur Johns Hopkins Center for Health Security, Tom Inglesby lebih tegas lagi.
Ia meminta warga untuk menggunakan masker non medis jika keluar rumah atau berada di tempat umum, lantaran setidaknya hal ini bisa memperlambat penyebaran virus corona.
Daftar negara yang mewajibkan masker
Austria, Republik Ceko, dan Slovakia semuanya mewajibkan penggunaan masker di tempat umum.
Banyak orang Ceko bahkan menjahit masker mereka sendiri supaya tidak memperparah kelangkaan masker.
Pihak berwenang di kota Jena, Jerman pada hari Selasa kemarin juga mengatakan bahwa pihaknya berencana untuk mewajibkan penggunaan masker di toko-toko dan di transportasi umum, serta tempat-tempat umum lainnya. Warga juga boleh menggunakan syal pribadi atau kain menutupi wajah jika tak memiliki masker.
Pun demikian halnya dengan China, tempat di mana pandemi dimulai, CDC China merekomendasikan untuk warga untuk menggunakan masker ketika keluar rumah.
Kelangkaan APD
Ketika perdebatan terus berlanjut tentang apakah masyarakat harus mengenakan masker atau tidak, dunia kini tengah menghadapi kekurangan pasokan perlengkapan tenaga medis yang serius.
Para pejabat WHO memperingatkan selama konferensi pers di Jenewa pekan lalu bahwa ada "kekurangan pasokan" medis yang signifikan secara global, termasuk alat pelindung diri atau APD.
"Kami perjelas bahwa dunia sedang menghadapi kekurangan signifikan APD untuk pekerja garis depan kita - termasuk topeng dan sarung tangan dan baju dan pelindung wajah. Melindungi petugas kesehatan adalah prioritas utama kita," kata Dr. Maria Van Kerkhove, ahli epidemiologi penyakit menular WHO. (*/CNN/CDC/WHO)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/cara-memakai-masker-yang-benar-untuk-mencegah-penyebaran-penyakit.jpg)