Viral Video Dokter Sagiran
Beredar Video dr Sagiran Memohon-mohon Agar Pasien PDP COVID-19 Kritis di Bantul Dapat RS Rujukan
Di Yogyakarta, ada video beredar salah satu rumah sakit di Bantul, Yogyakarta membutuhkan penanganan pasien virus corona dengan fasilitas memadai.
Penulis: Dwi Latifatul Fajri | Editor: Rina Eviana
TRIBUNJOGJA.COM, JOGJA - Video seorang dokter di Kabupaten Bantul, DIY yang memohon-mohon agar pasien dalam pengawasan (PDP) kritis untuk mendapat rumah sakit rujukan viral di media sosial.
Dalam video tersebut, seroang dokter yang mengenakan baju pelindung bernama dr Sagiran sedang berada di Klinik Nur Hidayah, Bantul, DI Yogyakarta.
Dokter Sagiran yang juga merupakan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Bantul meminta pemerintah setempat untuk membantu menangani pasien PDP yang saat itu sedang kritis di Klinik Nur Hidayah, Bantul.
"Assalamualaikum Bapak Kepala Dinas Kabupaten Bantul Bapk Bupati para anggota dewan tolonglah kami. Sekarang ada di pasien PDP kondisinya kritis di dalam IGD," ucap Sagiran.

Dalam video tersebut dr Sagiran telah menelepon 23 rumah sakit untuk menangani pasien PDP yang kritis itu. Namun pasien belum mendapat rumah sakit rujukan saat video itu dibuatnya.
dr Sagiran juga menjelaskan pihak rumah sakit tidak punya ADP yang memadai dan butuh bantuan APD.
"Kita sudah menelpon 23 rumah sakit tidak ada yang terima. Kami punya APD seadanya tidak ada bantuan tidak ada bantuan sendiri. Tolong untuk menolong pasien yang berada di dalam rumah. Tensinya rendah tinggal 80," ucap dr Sagiran.
Menanggapi hal tersebut Juru Bicara Pemda DIY untuk Penanganan COVID-19 Berty Murtiningsih mengatakan dari hasil konfirmasi ke Dinas Kesehatan Bantul, pasien PDP di Klinik Nur Hidayah Bantul 2 pasien sudah dirujuk ke RSUP dr Sardjito dan satu orang lainnya sedang dicarikan rumah sakit rujukan.
RS Rujukan di Bantul Penuh
Empat rumah sakit rujukan corona virus di Bantul, yakni RSUD Panembahan Senopati, RS PKU Muhammadiyah, RSPAU Hardjolukito, hingga RS Elisabeth telah penuh. Pemkab pun mengantisipasi dengan mendirikan rumah sakit darurat.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul, Agus Budi Raharjo mengatakan, rencananya rumah sakit darurat ini akan berlokasi di Puskesmas Bambanglipuro lama. Nantinya, PDP COVID-19 bergejala ringan dan pasien dengan hasil rapid test positif, dirwat disana.
"Kalau keadannya memburuk, baru dibawa ke rumah sakit rujukan. Sehingga, mekanisme dan tahapannya menjadi semakin tertata. Kalau dianalogikan dengan Jakarta, mungkin ini nanti semacam Wisma Atlet," katanya, Senin (30/3/20).
Berbagai persiapan pun dilakukan pihaknya, supaya rencana tersebut dapat secepatnya terealisasi. Yakni, dengan melengkapi beberapa sarana dan pra sarana, seperti pemindahan kasur rawat dari Puskesmas lain yang bisa dialihkan untuk menunjang RS darurat.
• UPDATE Virus Corona Terkini: Pasien Positif COVID-19 Bertambah 129 Menjadi 1.414 Orang
Kemudian, lanjut Agus, masalah ketenagaan juga akan dilakukan realokasi, baik dari fasilitas kesehatan milik Pemkab Bantul maupun sumberdaya Dinas Kesehatan yang bakal dikerahkan untuk turun gunung, seandainya tenaga yang dibutuhkan masih belum mencukupi.
"Mereka yang sesuai kompetensinya, seperti bidan, perawat, dokter dan sebagainya, mungkin akan kita realokasikan sementara ke RS darurat," ujarnya.
"Selebihnya, apabila terjadi kekurangan, kita akan upayakan menggandeng relawan, agar bisa membantu di sini untuk melayani pasien yang mungkin jumlahnya bisa sampai 100 orang," tambah Agus.
Menurutnya, rencana ini akan dibahas secara intensif dalam rapat gugus tugas penanganan COVID-19 Bantul yang sedianya bakal digulirkan pada Selasa (31/3/20). Ia menandaskan, jikalau persetujuan sudah didapat, maka RS darurat ini bisa segera direalisasikan.
"Setelah disepakati, saya kira satu minggu setelahnya kita sudah bisa operasikan. Begitu acc, kami akan realokasi peralatan penunjang dan tenaga. Maksimal ya, kami butuh waktu satu minggu," tegasnya.
• Kisah Tenaga Medis Tertular Corona dari Pasien, Nangis Sesenggukan ke Ganjar, Saya Kangen Anak
Bantuan ADP

Sementara untuk bantuan APD, bahwa distribusi APD ke Fasilitas Kesehatan (Faskes) dilakukan secara 1 pintu melalui Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan. Distribusi yang dilakukan disesuaikan dengan jumlah pasien yang sedang dirawat.
"APD di BPBD akan dialihkan ke Gudang Instalasi Farmasi. Mekanisme tersebut sudah kita lakukan sebelum adanya bantuan yang di BPBD," jelas Juru Bicara Pemda DIY untuk Penanganan COVID-19 Berty Murtiningsih.
Lebih lanjut Berty mengatakan bahwa distribusi APD disesuaikan dengan kebutuhan di rumah sakit.
Sebelumnya rumah sakit mengajukan permintaan ke Dinas Kesehatan dan mengambil di Gudang Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan.
Selain terkait APD, Rapid Diagnose Test (RDT) juga telah diterima DIY diambil bersamaan dengan pengambilan APD.
Berty menjelaskan bahwa saat ini rumah sakit sudah mengambil RDT dan APD tersebut.
"Sudah diberikan alokasi sesuai prioritas untuk tenaga medis di rumah sakit yang merawat COVID-19 dan untuk keperluan tracing kontak di masyarakat. Untuk keperluan tracing kontak ini, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mengajukan kebutuhan sesuai hasil penyidikan epidemiologi awal dan mengambil ke Gudang Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan," urainya.
Ia menambahkan, setiap kasus positif COVID-19 telah dilakukan kontak tracing oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Saat ini hasil kontak tracing tersebut akan digunakan untuk pengajuan kebutuhan RDT.
"Sehingga ada (Dinas Kesehatan) kabupaten/kota saat ini sedang proses pengajuan.
Perlu diingat bahwa RDT ini bukan sebagai pemastian diagnosa dan akan memberikan gambaran hasil yang sesuai dengan antigen pada tubuh kita, minimal 7 hari setelah terinfeksi," ucapnya.
(Tribunjogja.com | Dwi Latifatul Fajri)