Wabah Virus Corona

Prediksi Ilmuwan Peraih Nobel soal Kapan Epidemi Virus Corona Akan Berakhir

Meskipun untuk sementara ini tingkat kematian akibat CCOVID-19 tampak secara signifikan lebih tinggi daripada flu, masyarakat tak perlu khawatir

Prediksi Ilmuwan Peraih Nobel soal Kapan Epidemi Virus Corona Akan Berakhir
Andolu New Agency
Ilustrasi Virus Corona 

Prediksi Ilmuwan Peraih Nobel soal Kapan Epidemi Virus Corona Akan Berakhir

TRIBUNJOGJA.COM - Pandemi virus corona SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 kini sedang menjadi ancaman global. Sejumlah negara bahkan harus menerapkan kebijakan lockdown untuk memutus penularan virus tersebut.

Virus corona pun kini sedang menjadi ancaman bagi Indonesia. Hari ke hari jumlah pasien positif COVID-19 bertambah. Demikian juga yang meninggal meskipun jumlah yang sembuh juga banyak.

Di tengah kabar mencemaskan mengenai wabah virus corona di berbagai negara, masih ada sejumlah kabar yang menenangkan hati kita.

Seorang pria berjalan melewati papan iklan besar pemerintah Italia yang mengkampanyekan penyebaran COVID-19 (novel coronavirus) di jalanan Napoli pada 22 Maret 2020.
Seorang pria berjalan melewati papan iklan besar pemerintah Italia yang mengkampanyekan penyebaran COVID-19 (novel coronavirus) di jalanan Napoli pada 22 Maret 2020. (Carlo Hermann / AFP)

Salah satunya adalah analisa seorang pemenang Nobel dan ahli biofisika Stanford, Michael Levitt yang memperkirakan peningkatan jumlah kematian terkait kasus COVID-19 akan terus berkurang dari hari ke hari.

Levitt mulai mulai menganalisa jumlah kasus COVID-19 di seluruh dunia pada bulan Januari dan hitungannya dengan tepat menemukan bahwa China akan melalui wabah koronavirus terburuknya, jauh sebelum banyak pakar kesehatan memperkirakan.

Saat ini, dia memperkirakan situasi serupa akan terjadi di Amerika Serikat dan negara-negara lain di dunia yang terdampak corona. Jika sejumlah ahli epidemiologi memprediksi akan ada gangguan sosial besar-besaran dan berkepanjangan serta jutaan kematian, analisa Levitt justru berkebalikan dengan skenario mengerikan itu.

"Yang kita butuhkan saat ini adalah mengendalikan kepanikan. Dalam skala besar kita akan baik-baik saja," katanya, seperti dilansir dari LA Times.

Lalu, data apa yang dianalisa oleh Levitt dari kasus China? Pada 31 Januari, China mencatat 46 kasus kematian baru karena COVID-19 dan 42 kematian baru sehari sebelumnya.

Meski jumlah kematian meningkat setiap harinya, tetapi tren kenaikan itu perlahan mereda.

Halaman
1234
Editor: Rina Eviana
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved