Wabah Virus Corona
Apakah Virus Corona Bisa Menyebar Lewat Udara atau Airborne?
Meski jaga jarak sosial atau social distancing telah dilakukan, kemungkinan risiko penularan masih dapat terjadi
Apakah Virus Corona Bisa Menyebar Lewat Udara atau Airborne?
TRIBUNJOGJA.COM -Virus corona jenis baru (COVID-19) yang penyebarannya berawal dari Wuhan, Provinsi Hubei China, kini sudah dinyatakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai pandemi global.
Per Kamis (19/3/2020), seperti dikutip dari Johns Hopkins University, total ada sebanyak 214.894 kasus terkonfirmasi positif COVID-19.
Sementara itu, angka kematian sebanyak 8.732 orang dan pasien sembuh 83.313 orang.
WHO pun telah memperingatkan kemungkinan penularan virus corona melalui udara.
Sementara, saat ini social distancing mulai digerakkan untuk meminimalisir penularan COVID-19.
Lantas, mungkinkah virus corona dapat menyebar lewat udara?
Jawabannya, mungkin saja virus ini dapat menular melalui udara.
Meski jaga jarak sosial atau social distancing telah dilakukan, kemungkinan risiko penularan masih dapat terjadi. Bahkan orang tanpa gejala inveksi COVID-19, dapat menularkannya.
• UPDATE Terbaru Korban Virus Corona di Indonesia Hingga Kamis, 25 Meninggal, 309 Positif Covid-19
Melansir Women's Health, Kamis (19/3/2020), karena ini adalah virus corona baru, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengakui masih terus melakukan studi untuk melihat karakteristik virus corona, SARS-CoV-2 ini.
Di antaranya dari bagaimana penyebarannya, tingkat keparahan penyakit yang ditimbulkan dan sejauh mana penyebarannya.
Kemungkinkan penyebaran virus corona di udara dapat saja terjadi.
Hal itu juga disampaikan oleh Dr Maria van Kerkhove, Head of Emerging Diseases and Zoonosis Unit WHO. WHO memperingatkan penularan COVID-19 dari udara bagi para petugas medis.
Oleh karena itu, Van Kerkhove mengingatkan adanya risiko paparan virus corona melalui udara, saat petugas medis melakukan prosedur seperti intubasi.
• Penjelasan Soal Bagaimana Sistem Kekebalan Tubuh Manusia Melawan Virus Corona
Kendati demikian, penting untuk dicatat, penularan udara dapat berarti hal yang berbeda bagi orang-orang, bahkan bagi para ahli.
Sebab, menurut Natasha Bhuyan, MD, seorang spesialis penyakit menular dan dokter di Phoenix, Arizona, secara umum, patogen dianggap dapat menyebar di udara melalui partikel yang lebih kecil.
Partikel tersebut dapat bertahan di udara untuk jangka waktu yang cukup lama.
Pada umumnya, lama persisnya partikel virus berada di udara sebelum akhirnya menghilang, tergantung pada berbagai faktor.
"Termasuk di antaranya suhu dan kelembaban daerah, dan lain sebagainya," ungkap Rishi Desai, MD, mantan petugas dinas intelijen epidemi di divisi penyakit virus di CDC.
Partikel virus corona bertahan dalam aerosol
Apabila melihat kembali COVID-19 secara spesifik, orang yang terinfeksi virus penyakit ini, saat batuk atau bersin, droplet atau percikan cairan akan keluar dari hidung dan mulut. Dr.
Desai menjelahkan kemungkinan partikel tersebut dapat saja bertahan lama di udara di sekitar pasien tersebut.
• Dugaan Ahli Mengapa Persentase Jumlah Pasien Virus Corona yang Meninggal Dunia di Indonesia Tinggi
Namun, para ahli belum dapat menjelaskan durasi waktu secara konkret, berapa lama tepatnya itu akan bertahan di udara.
Dalam sebuah studi terbaru yang diterbitkan, Rabu (18/3/2020) di New England Journal of Medicine, para peneliti menemukan virus corona, SARS-CoV-2 yang keluar melalui droplet saat batuk atau bersin, tetap stabil dalam aerosol selama tiga jam.
Kendati demikian, ada baiknya diperlukan percobaan yang dilakukan dalam penelitian ini.
Selain aerosol, perlu juga melihat apakah virus corona juga bertahan jika terpapar pada plastik, tembaga dan beberapa zat lain.
"Hasil penelitian ini, kami menunjukkan bahwa transmisi aerosol yang mengandung virus corona, SARS-CoV-2 cukup masuk akal. Sebab, virus dapat tetap hidup dan menular di aerosol selama berjam-jam," ungkap penulis penelitian ini.
Bahkan, jika bekas partikel virus di udara saat pasien bersin atau batuk dapat bertahan berjam-jam di udara, maka kemungkinan masih ada partikel yang tertinggal hanya mencapai sekitar enam kaki dari titik asal.
Jadi, seperti dinyatakan CDC, transmisi udara dari orang ke orang dalam jarak yang jauh tidak mungkin terjadi.
Seseorang cenderung memahami bahwa orang yang terinfeksi, saat batuk atau bersin, droplet yang mengandung partikel virus akan langsung mendarat ke wajah, tubuh atau permukaan terdekat.
"Jadi jarak paling aman Anda adalah tinggal enam kaki jauhnya dari semua orang, sebanyak yang Anda bisa," kata Dr. Bhuyan.
Virus campak, contohnya, dapat hidup di udara hingga dua jam setelah orang yang terinfeksi keluar.
Sedangkan virus corona, MERS yang muncul pada 2012 di Timur Tengah, juga ditemukan dalam bentuk infeksi yang diambil dari sampel udara di rumah sakit tempat pasien dirawat.
Namun, hingga saat ini, penelitian baru terus muncul tentang bagaimana COVID-19 menyebar dan masih banyak yang harus dipelajari tentang penyebaran virus corona, SARS-CoV-2 ini.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Benarkah Virus Corona Bisa Menyebar Lewat Udara atau Airborne?"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ini-kondisi-kesehatan-presiden-jokowi-dan-jajaran-menterinya-setelah-selesai-jalani-tes-covid-19.jpg)