Dampak Corona DIY

Okupansi Hotel di DIY Drop

Penurunan okupansi hotel per 17 Maret tercatat di kisaran 18,17 persen. Sementara per Februari hingga Maret pun tercatat lost mencapai Rp33,6 miliar.

Penulis: Amalia Nurul F | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Amalia Nurul
PHRI DIY melakukan jumpa pers terkait kondisi industri perhotelan di DIY pasca-diumumkan adanya pasien positif covid-19 di DIY, Selasa (17/3/2020) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pasca diumumkannya pasien positif covid-19 di DIY pada 15 Maret lalu, industri perhotelan di DIY langsung drop.

Penurunan okupansi hotel per 17 Maret tercatat di kisaran 18,17 persen. Sementara per Februari hingga Maret pun tercatat lost mencapai Rp33,6 miliar.

Hal tersebut disampaikan dalam jumpa pers yang digelar BPD PHRI DIY, Selasa (17/3/2020) sore.

PHRI DIY pun telah menyusun rencana menghadapi kondisi tersebut.

RSD Bagas Waras Klaten Tiadakan Jam Besuk Guna Antisipasi Covid-19

Upaya yang dilakukan agar okupansi hotel di DIY tidak terjun bebas antara lain mendesak pemerintah pusat maupun daerah untuk menyuntikkan stimulus atau insentif kepada hotel-hotel.

Sejauh ini belum ada tindak lanjut tentang petunjuk pelaksanaan (juklak) maupun petunjuk teknis (juknis) insentif tersebut.

"Kami menunggu stimulus. Sampai sekarang belum ada kelanjutan julkak dan juknisnya. Maka kita desak pusat, atau kita desak pemda untuk ditanyakan ke pusat soal itu," kata Ketua Umum BPD PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono.

Insentif tersebut sangat dibutuhkan karena dapat menekan cost untuk biaya operasional hotel.

"Kami mendorong pemerintah bisa mengabulkan permintaan kami," tuturnya.

Sementara itu, Ketua Indonesia Hotel General Manager Association (IHGMA) DPD DIY Herriyadi Baiin juga menambahkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan PHRI pusat terkait kondisi di DIY.

"Sudah kami laporkan PHRI pusat. Harapannya agar bisa membantu kami. Agar stimulus pemerintah dapat terlaksana. Kami belum bisa eksekusi karena belum ada juknis dan lainnya," jelasnya.

Wisman Merosot Tajam, PHRI DIY Andalkan Event Tarik Wisatawan Nusantara

"Operasional hotel saat ini sudah tidak ada tamu, jadi membutuhkan peran PHRI pusat untuk membantu menyikapi dan memberikan saran pada pemda dan pemerintah pusat," sambungnya.

Di samping itu, PHRI DIY juga mendukung langkah pemerintah dalam mengantisipasi makin meluasnya covid-19.

Hal tersebut dilakukan dengan menyiapkan panduan atau guidance yang diapat diterapkan bagi hotel-hotel.

Ketua Indonesia Hotel General Manager (IHGM) DPD DIY Kukuh Wibawanto menjelaskan, pihaknya telah merancang panduan tersebut dan dapat disesuaikan penerapannya di masing-masing hotel.

"PHRI juga memberikan guidance, dan implemetasinya menyesuaikan masing-masing hotel. Karena masing-masing berbeda-beda kondisi. Kami juga bedoa sekaligus meminta dukungan agar okupansi sangat rendah tidak sampai terjadi," ujarnya.

Lanjutnya, SOP penanganan covid-19 ini dilakukan dari hulu hingga hilir secara konsisten.

Hal yang dilakukan antara lain dengan mengharuskan cuci tangan menggunakan sabun dan air atau menggunakan. hand sanitizer hingga penyemprotan disinfektan. Dalam hal ini seperti halnya merti dusun, merti Yogyakarta pun harus dilakukan.(amg)

Jangan Ajak ke Yogya

Pariwisata sebagai tiang ekonomi di DIY pun dituntut berdiri tegak dalam segala kondisi.

Deddy Pranowo Eryono menuturkan, dengan adanya SOP tersebut dipastikan Yogyakarta aman dikunjungi.

"Kami sepakat, Yogyakarta aman dan siap dikunjungi, dengan catatan betul-betul melakukan SOP. Karena ekonomi di DIY salah satunya pariwisata," katanya.

"Sesuai yang disampaikan Ngarsa Dalem berkali-kali jangan sekali-kali ajak orang ke Yogya. Tapi menunjukkan orang aman datang ke Yogyakarta," tuturnya.

Pihaknya juga tak bisa memberikan promosi apapun.

Hanya pernyataan Yogyakarta aman dikunjungi saja yang menjadi pegangan.(TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved