Kisah PSK Positif HIV dan Kini Membaktikan Diri Merawat Penderita Lainnya di Yogyakarta
SW adalah salah satu PSK yang terinfeksi virus HIV. Kini ia membaktikan diri di rumah kebaya untuk merawat penderita hiv lainnya
Penulis: Sri Cahyani Putri | Editor: Mona Kriesdinar
Sikap kewanitaan memang sudah dimiliki SW (60) sejak masih kecil walaupun dilihat secara psikis laki-laki.
Ia anak bungsu dari empat bersaudara.
Sejak kecil sepulang sekolah ia selalu merias wajah.
Ia juga lebih sering bergaul dengan teman-teman perempuan.
"Aku biasanya pulang sekolah selalu dandan dan senengnya ikut pasaran sama anak perempuan,"ungkap SW saat ditemui di rumah kebaya atau Keluarga Besar Waria Yogyakarta pada Kamis (12/03/2020).
Ia mengakui bahwa ketika dirinya menjadi waria, ia tak merasakan diskriminasi dari saudara dan ibunya melainkan hanya dari bapaknya.
Kisahnya hidup sebagai seorang pekerja seks komersial (PSK) dimulai ketika ia merantau ke Bandung tahun 1982 hingga 2006 lalu.
Waktu itu ia diberi alamat temannya yang menjadi tujuan perantauannya di Bandung.
Ia pun berpamitan kepada keluarganya.
Selama di Bandung ia melayani pria hidung belang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Untuk membayar kos dan membeli makanan kebutuhan sehari-hari.
Jika sepi, ya terpaksa dirinya berutang ke warung.
Singkat cerita, pada 2006 lalu dirinya melaksanakan pemeriksaan kesehatan.
Dan ternyata ia positif mengidap virus HIV.
Saat itu SW sudah mengalami diare kronis.
Ia sempat ketakutan meninggal di Bandung.
SW pun berencana pulang ke kampung halaman pada tahun 2007. Hanya saja, temannya menyarankan dirinya untuk pergi ke Yogyakarta bersama dengan teman penderita lainnya yang berasal dari Palembang.
Yogyakarta menjadi tempat tujuan, utamanya bertemu dengan Mami Vin. Namun saat itu mereka tak berhasil menemui Mami Vin karena sedang ada acara seminar di Jakarta.
• Kisah Mami Vin, Berjuang Merawat Para Waria Penderita HIV di Yogyakarta

Akhirnya SW dan temannya ditangani dulu oleh PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) dimasukkan ke rumah sakit untuk opname dan dilakukan test kedua kalinya dan hasilnya memang positif.
Akibat virus HIV, SW mengalami anemia parah hingga tubuhnya lemas tak berdaya.
SW pun sempat dibawa oleh mami Vin ke RSUP Sardjito untuk melakukan test lagi.
"Udah lemes gitu aku masih jalan sama mami Vin dari samsat naik bis umum turun ke Sardjito" paparnya.
Sampai di RS Sardjito sudah tidak sadar dan dimasukkan ke ICU. Bahkan saat itu ia harus melakukan tranfusi darah selama seminggu di mana dalam sehari membutuhkan tujuh kantong darah.
Dikira sudah meninggal
Tahun 2008 SW merasa tubuhnya sudah mulai membaik.
Tak hanya itu ia mengumpulkan uang sedikit demi sedikit agar bisa pulang.
Hampir 11 tahun lamanya SW memutuskan untuk pulang ke Cilacap daerah asalnya.
Belasan tahun merantau ke Bandung ia tidak pernah memberi kabar ke keluarganya.
Keluarganya pun mengira jika SW sudah meninggal.
"Ibuku, kakakku nangis kabeh setiap jumat dikasih doa ngira aku sudah meninggal,"katanya sambil mengeluarkan air matanya.
Semenjak itu ia setiap setahun sekali saat lebaran pulang kerumah.
"setiap lebaran aku pulang setahun sekali kalo ditinggal sini repot soalnya" jelas SW.
Menikah dengan seorang pria
Selama di Bandung SW bertemu dengan seorang pria yang dijadikan sebagai suaminya.
Bahkan suaminya tersebut juga pernah diperkenalkan dengan keluarga.
"keluarga ku juga tau kalau aku punya suami bahkan biyungku ngomong kok bojomu nggantengmen, iyo walaupun aku elek tp aku wegah ndue bojo elek hahahaha" papar SW.
Rutin konsumsi ARV
Hingga sekarang SW masih mengonsumsi obat untuk mencegah penyakit HIV karena memang HIV belum bisa disembuhkan.
Tak hanya itu ia dan mami Vin serta dibantu dengan pengurus lainnya mendirikan LSM Rumah Kebaya.
Selama di rumah kebaya SW berhenti dari dunia malam maupun seks.
Setiap hari ia menghabiskan waktunya untuk bekerja sebagai juru masak di Rumah Kebaya dan mengurus orang yang menderita HIV.
Ia juga fokus mengurus anak kecil N yang ditinggal ibu kandungnya sejak masih bayi.
Sebagai informasi, hingga saat ini belum ada obat untuk HIV. Hanya saja ada obat yang bisa menghambat perkembangan virus HIV, yakni antiretroviral atau ARV. Obat ini mampu menghancurkan unsur-unsur yang dibutuhkan HIV dalam menggandakan diri.
Obat ARV meliputi Efavirenz, Etravirine, Nevirapine, Lamivudin dan Zidovudin. Namun hal ini pun harus dibarengi dengan pemantauan dari tenaga medis untuk mengetahui bagaimana respon tubuh terhadap penggunaan obat tersebut.
Namun baru-baru ini, seorang pria asal London, Inggris bernama Adam Castillejo (40) dinyatakan sembuh dari virus HIV.
Ia menjadi pengidap virus HIV kedua di dunia yang berhasil disembuhkan.
Bahkan dirinya sudah lebih dari 30 bulan tak lagi mengonsumsi obat ARV.
Jurnal The Lancet pada Selasa (10/3/2020) kemarin mempublikasikan kisahnya. Adam Castillejo sembuh dengan menjalani transplantasi sel punca atau disebut juga transplantasi sumsum tulang belakang. (TRIBUNJOGJA.COM)