Viral Surat Edaran Bebas Kucing di Kampus ITS, Begini Penjelasan Universitas
Viral surat edaran tentang kampus ITS bebas kucing tersebar di media sosial.Pihak kampus beri klarifikasi terkait kesalahan penulisan dalam surat.
Penulis: Dwi Latifatul Fajri | Editor: Rina Eviana
Viral Surat Edaran Bebas Kucing di Kampus ITS, Begini Penjelasan Universitas
Tribunjogja.com - Viral surat edaran tentang kampus bebas kucing tersebar di media sosial.
Surat edaran tersebut juga diunggah oleh Instagram @gardasatwafoundation yang berisi pengumuman pendek tentang kampus bebas kucing.
Isi surat edaran menjelaskan tentang kampus yang menerapkan suasana bebas kucing dan tidak membiarkan kucing berkeliaran. Dari pengumuman tersebut pihak kampus tidak memperbolehkan memelihara kucing di unit kerja.
Surat edaran tersebut dibuat oleh Institut Teknologi Sepuluh November di Surabaya, Jawa Timur.
Dari pengumuman tersebut tertera 26 Februari 2020.
"Dalam upaya menciptakan suasana kampus bebas kucing, maka dengan ini kami sampaikan agar semua unit untuk ikut berpastisipasi menciptakan suasana kantor bebas kucing, dengan tidak membiarkan kucing berkeliaran dan bahkan memelihara kucing di unit kerja," itulah isi pengumuman yang diedarkan.
Surat edaran tersebut menjadi viral di media sosial bahkan menjadi pro dan kontra penyayang binatang.
Pihak kampus, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) akhirnya memberi klarifikasi terkait surat edaran yang ditandatangani oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, an Prasarana, Ir. Mas Agus Mardyanto.
Surat tersebut berisi imbauan semua unit untuk berpartisipasi menciptakan suasana kantor bebas kucing.
Surat tersebut juga berisi tidak membiarkan kucing berkeliaran dan memelihara kucing di unit kerja.
Kepala Unit Komunikasi Publik ITS, Anggra Ayu Rucitra mengatakan, memberi klarifikasi terkait kesalahpahaman surat pada paragraf pertama baris pertama.
Dalam paragraf tersebut menyebutkan kalimat 'Dalam upaya menciptakan suasana kampus bebas kucing'.
"Yang mana, harusnya poin tersebut langsung lebih spesifik pada poin 'Area kantor atau unit kerja bebas kucing'," kata Anggra mengutip dari surya.co.id.
"Sehingga kami sadari, penyebutan area kampus bebas kucing tersebut akan dimaknai luas yaitu di seluruh lingkungan kampus ITS," tambahnya.
Surat edaran tersebut menimbulkan kontroversi di media sosial.
• Sadis! Ratusan Kucing Direbus Hidup-hidup Kulitnya Diambil untuk Dibuat Jaket dan Akesori Lain
Namun Anggra menjelaskan bahwa poin pentingnya adalah area kantor dan unit bebas kucing.
Anggra juga menjelaskan surat edaran tersebut untuk himbauan suasana kerja yang nyaman dan baik untuk internal ITS maupun tamu yang berkunjung.
"Jadi kami garis bawahi, tidak ada maksud dari kami untuk menyingkirkan kucing di area kampus ITS atau melarang para pecinta kucing yang kebanyakan mahasiswa ITS sendiri untuk merawat mereka di luar lingkungan kantor atau unit kerja ITS," jelas perempuan lulusan S2 Manajemen Teknologi ITS tersebut.
Pihak kampus berharap surat edaran yang viral di media sosial tersebut dapat dipahami oleh masyarakat dan tidak sembarang menyimpulkan.
Anggra mengaku memang ada kesalahan dalam penulisan paragraf pertama. Surat edaran ini dtujukan untuk membentuk Eco Campus.
Eco Campus ini bertujuan untuk mendukung lingkungan kampus hijau yang menjaga flora dan fauna di dalamnya.
"Kami kampus ITS yang memiliki program Eco Campus jelas sangat mendukung dengan adanya keselarasan lingkungan yang ada di ITS baik flora dan fauna yang ada di lingkungan kampus," kata Anggra.
"Dan kami sadari keberadaan satwa seperti berbagai jenis burung yang masih banyak, tupai, kucing maupun satwa lain semua akan menambah daya tarik ITS sebagai kampus hijau," tutup Anggra.
• Viral Foto Menggemaskan Kucing Pakai Masker di Tengah Wabah Virus Corona, Diajak Pemilik Jalan-jalan
Banyak pembela kesejahteraan satwa yang mengkritik kebijakan itu. Salah satunya Garda Satwa Foundation melalui akun Instagram, mereka mengkritik aturan itu.
"Kampus bebas kucing? Kenapa? Kucing sejak dulu memang habitatnya sudah sama seperti kita, sama seperti burung, di mana-mana ada. Lantas apa burung juga diusir dari kampus? Memelihara kucing = memelihara lingkungan hidup, justru harusnya dibudayakan, bukannya dilarang.
Permasalahannya apa? Kotor? Manusia juga menghasilkan sampah kok, bahkan banyak yang tidak bisa diurai.
Kotorannya bau? Yah dibersihkan. Manusia juga kotorannya bau, tapi dibersihkan beres bukan? Apalagi.
Suka mengacak sampah? Ya beri makan. Kucing kenyang ga akan mau makan yang ada di sampah.
Beranak pinak? Ya di steril.
Takut menyebarkan penyakit? Ya divaksin.
Semudah itu solusinya. Kerjakan bersama-sama penduduk kampus, pasti terasa mudah, dan semakin lama semakin terbiasa.
Menjadikan tempat bebas kucing itu agak mustahil karena kucing binatang teritorial, ada teritori yang kosong ya dia isi.
Semoga solusi ini diterima dengan baik," tulis akun Instagram @gardasatwafoundation.
( Tribunjogja.com | Dwi Latifatul Fajri )
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/viral-aksi-nekat-pria-baruh-baya-memakan-kucing.jpg)