Wisatawan Direkomendasikan Hanya Sampai Lantai Delapan Candi Borobudur

Hal ini untuk mengantisipasi potensi aus pada batuan candi, akibat terlalu banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Candi Borobudur.

Tayang:
Penulis: Rendika Ferri K | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM / Rendika Ferri
Pemandangan Candi Borobudur dilihat dari Taman Kenari Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Senin (20/1/2020). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri K

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Balai Konservasi Borobudur (BKB) memberikan rekomendasi pembatasan akses wisatawan di Candi Borobudur hanya sampai lantai delapan candi.

Hal ini untuk mengantisipasi potensi aus pada batuan candi, akibat terlalu banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Candi Borobudur.

Demikian disampaikan oleh Kepala Balai Konservasi Borobudur (BKB), Tri Hartono.

Ia mengatakan, pengunjung direkomendasikan boleh naik tetapi hanya sampai lantai delapan candi saja. Lantai sembilan dan 10 akan steril dari pengunjung candi.

"Pengunjung hanya sampai delapan candi, tidak sampai sembilan dan 10. Rencananya seperti itu. Kita akan arahkan seperti itu. Namun, mereka (pengunjung) masih bisa melihat (lantai 9 dan 10), hanya saja dari jauh," ujar Tri.

Kepala Balai Konservasi Borobudur (BKB), Tri Hartono
Kepala Balai Konservasi Borobudur (BKB), Tri Hartono (Tribun Jogja/ Rendika Ferri K)

Meski rekomendasi hanya sampai lantai delapan, pengunjung tetap dapat melihat lantai 9 dan 10 dari lantai delapan candi, dengan jarak pandang 1-8 meter.

Banyak manfaat yang diperoleh jika rekomendasi tersebut diberlakukan.

Pertama, pengunjung yang selama ini hanya naik ke atas dan sekadar berputar, mereka dapat melihat stupa yang berbeda di setiap lantai. Nilai edukasi akan didapat.

"Mereka bisa menonton dari lapis 8 itu, nanti bisa dilihat dari lapis 8 itu, hanya saja jarak pandangannya 1 meter sampai 8 meter. Selama ini mereka naik ke atas, puter-puter baru turun lagi. Kalau sudah di lapis ini, mereka baru bisa menghayati, ternyata stupa di lapis 8 sama stupa di lapis 9 dan stupa di lapis 10 itu berbeda. Tapi kalau mereka tiba-tiba naik ke atas, mereka akan melewatkan itu," kata Tri.

Dikatakan Tri, stupa memiliki bentuk terawang yang berbeda di lantai delapan dan lantai sembilan.

Stupa di lantai 8 memiliki terawang berbentuk lonjong.

Kedua di lantai 9, stupa dengan terawang berbentuk segi empat.

Cegah Aus Batuan Candi, Tangga Candi Borobudur Akan Dilapisi Kayu Jati

Kisah Warga Borobudur Sulap Limbah jadi Produk Ekspor, Sukses Ciptakan 1970 Jenis Kerajinan

Stupa paling tinggi di puncak, tak ada lagi terawang. Masing-masing memiliki arti dan nilai filosofis yang bisa dipelajari.

"Seperti di situ ada stupa yang mempunyai terawang bentuknya lonjong. Yang kedua, di lapisan ke-9 ada stupa bentuknya terawang bentuknya segi empat. Terus yang di atas, yang paling tinggi itu ternyata sudah tidak ada yang terawang lagi, sudah tertutup semuanya. Ini kan menunjukkan kestabilan seseorang."

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved