Sains

Planet Bumi Terkena Gelombang Misterius, Ini Kata Astronom

Gelombang gravitasi dapat disebabkan oleh tumbukan benda besar, seperti dua lubang hitam atau dua bintang neutron.

Tayang:
Editor: Ari Nugroho
via Kompas.com
Ilustrasi bumi 

“Tetapi bintang Betelgeuse itu masih ada, sehingga bukan skenario itu. Tidak mungkin menjadi supernova lain karena mereka terjadi di galaksi kita hanya sekitar sekali setiap 100 tahun,” sambungnya seperti dilansir LiveScience (23/01/2020).

Howell juga mengungkapkan, kecilnya harapan bahwa ledakan tersebut berasal dari runtuhnya bintang masif.

Berapakah Umur Planet Bumi Kita Ini?

Ia juga mengungkapkan, sebelumnya belum pernah melihat bintang yang meledak dalam gelombang gravitasi.

Selain itu, para astronom juga tidak mendeteksi neutrino, partikel subatom kecil yang tidak membawa muatan, yang diketahui dilepaskan oleh supernova.

“Kemungkinan lain adalah peleburan dua lubang hitam massa-menengah menyebabkan sinyal,” sambung Howell.

Bintang neutron yang bergabung menghasilkan gelombang yang bertahan lebih lama, sekitar 30 detik daripada sinyal baru ini.

Sementara peleburan lubang hitam mungkin lebih mirip dengan ledakan yang berlangsung sekitar beberapa detik.

Namun, peleburan lubang hitam menengah mungkin juga melepaskan serangkaian gelombang yang berubah frekuensinya.

Beginilah Cara Alam Menguasai Bumi Kembali jika Tak Ada Manusia

LIGO menemukan sinyal ini sambil secara khusus mencari semburan tersebut.

Namun, Howell berpendapat tidak berarti apa yang ditemukannya adalah peleburan lubang hitam massal-menengah.

“Kami tidak tahu apa yang mereka temukan, terutama karena LIGO belum merilis struktur sinyal yang tepat,” tegasnya.

Oleh karena itu, Howell menyatakan kemungkinan bahwa sinyal baru tersebut hanya merupakan noise dalam data alat pendeteksi.

Tetapi, gelombang gravitasi ini ditemukan oleh ketiga detektor LIGO, satu di negara bagian Washington, satu di Louisiana dan satu di Italia.

Jadi, kemungkinan detektor LIGO menemukan sinyal ini secara kebetulan, artinya itu adalah alarm palsu, sekali setiap 25,84 tahun.

“Sehingga memberi beberapa indikasi bahwa ini adalah sinyal yang cukup bagus,” jelas Howell.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved