TRIBUN JOGJA WIKI

TRIBUN JOGJA WIKI: Masjid Gedhe Kauman

Tanah tempat dibangunnya masjid ini merupakan tanah milik Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Penulis: Wahyu Setiawan Nugroho | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Wahyu Setiawan
Masjid Gedhe Kauman yang berada di Kampung Kauman Kelurahan Ngupasan Kecamatan Gondomanan Kota Yogyakarta. 

Informasi Awal

TRIBUNJOGJAWIKI.COM, YOGYA - Masjid Gedhe Kauman merupakan masjid yang terletak di sebelah kiri Kraton Yogyakarta tepatnya di Kampung Kauman Kelurahan Ngupasan Kecamatan Gondomanan Kota Yogyakarta atau di sisi barat Alun-alun Utara Yogyakarta.

Masjid ini didirikan di atas tanah 4.000 meter persegi dengan luas bangunan 2.578 meter persegi.

Tanah tempat dibangunnya masjid ini merupakan tanah milik Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di tanah jawa.

Masjid ini mulanya dibangun atas inisiatif Sultan Hamengkubuwana I untuk memenuhi kebutuhan tempat ibadah di lingkungan Kraton dan sebagai pelengkap kerajaan islam waktu itu.

Masjid Gede Kauman Dipadati Masyarakat Salatkan Jenazah Yunahar Ilyas

Hingga saat ini, masjid ini berkembang menjadi masjid yang digunakan oleh masyarakat umum dan masih menjadi salah satu lokasi ritual budaya yakni Grebeg.

Sejarah

Berdirinya Masjid Gedhe Kauman diprakarsai oleh dua tokoh saat itu, yakni Sri Sultan Hamengkubuwono I dan Kiai Penghulu Faqih Ibrahim Diponingrat.

Ide ini lantas ditindaklanjuti oleh Kyai Wiryokusumo sebagai arsitek tersohor saat itu.

Maket masjid ini masih tersimpan di Kraton Ngayogyokarto, yang terbuat dari kayu jati ukuran 2 x 2 meter persegi.

Konon, menurut masyarakat, sebelum menjadi Raja, Sri Sultan Hamengkubuwono I sudah merupakan seorang muslim yang taat, rajin melaksanakan salat, Puasa wajib dan puasa sunah senin-kamis.

Bahkan ketika menghadapi perang gerilya menghadapi Belanda, dikatakan, Sri Sultan HB I ini membangun pos pos strategis untuk pasukannya yang dilengkapi dengan musholla atau tempat salat.

Masjid ini dibangun pada hari Ahad Wage, 29 Mei 1773 M atau 6 Robi’ul Akhir 1187 H, tujuannya sebagai sarana beribadah bagi keluarga raja serta untuk kelengkapan sebuah kerajaan Islam.

Antusias Warga Yogyakarta Menyaksikan Gerhana Matahari di Masjid Gede Kauman

Atap masjid bersusun tiga dengan gaya tradisional Jawa bernama 'Tajuk Lambang Teplok' dengan mustaka berbentuk Daun Kluwih dan Gada yang ditopang oleh tiang-tiang dan kayu jati Jawa yang usianya mencapai ratusan tahun.

Dinding masjid terbuat dari susunan batu putih dan lantainya dari batu kali hitam.

Proses Pembangunan

Masjid ini nama awalnya adalah Masjid Gedhe, Kemudian diubah menjadi Masjid Agung.

Nama ini berubah lagi menjadi Masjid Besar. Kemudian berubah lagi menjadi Masjid Raya Daerah Istimewa Yogyakarta.

Setelah masjid ini dibangun terjadi penambahan kapasitas karena jumlah jamaah yang beribadah melebihi kapasitas masjid.

Oleh karena itu pada 1775 bangunan masjid ditambah dengan serambi yang disebut serambi masjid Gedhe pada masa pemerintahan Hamengkubuwono I.

Serambi masjid yang dibangun juga difungsikan sebagai 'al Mahkamah al Kabiroh' tepatnya dibangun pada hari Kamis Kliwon, 20 Syawal 1189 H/ 1775 M.

Ratusan Peserta Tampil di Gema Takbir 2019 Mesjid Gedhe Kauman

Selain digunakan untuk Sholat, serambi juga berfungsi sebagai tempat pertemuan alim ulama, pengajian, mahkamah untuk mengadili terdakwa dalam masalah keagamaan, pernikahan, perceraian dan pembagian waris.

Saat itu, dibangun juga Pagongan (Pa: tempat, Gong-an: salah satu alat gamelan) yang berarti tempat gamelan, gamelan tersebut dimainkan pada setiap bulan Maulid Nabi.

Konon gamelan sekaten memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat sehingga membuat orang tertarik untuk mengenal, kemudian memeluk agama Islam dengan kemauan sendiri.

Kata sekaten berasal dari bahasa arab yaitu Syahadatain yang artinya dua kalimat syahadat.

Sementara itu, setelah 10 tahun tidak memiliki gerbang, akhirnya pada tahun 1840, tepatnya pada Senin 23 Syuro tahun Dal 1767 Jw/ Muharram 1255 H 1840 M dibangun pintu Gerbang Masjid atau Regol dengan nama Gapura yang diambil dari kata Ghofuro (ampunan dari dosa).

Gapura ini dibangun saat pemerintahan Hamengkubuwono V, maknanya apabila orang yang masuk melalui Gapuro dan berniat baik memasuki Islam, maka dosanya diampuni Allah SWT.

Pada tahun 1862 dimulai pemugaran sirap dan selesai pada tahun 1863.

Pada tahun 1867 Yogyakarta dilanda Gempa bumi yang mengakibatkan runtuhnya serambi masjid Gedhe.

Bukan hanya itu, regol masjid juga ikut runtuh.

Setahun kemudian Sri Sultan Hamengkubuwono VI membangun serambi.

Ribuan Warga Berdesakan Rebutkan Gunungan di Masjid Gedhe Kauman

Luas serambi yang baru ini dua kali lebih luas dari sebelumnya. Pada tahun 1869 regol masjid kembali dibangun.

Pada tahun 1917 dibangun gedung pejagan atau tempat penjaga keamanan yang terletak di kanan kiri gapura masjid.

Prajurit keraton menggunakan ajagan ini untuk menjaga keamanan masjid.

Gedung pajagan ini jugalah yang menjadi Markas Asykar Perang Sabil untuk membantu TNI melawan agresi Belanda pada revolusi perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Karena perhatian sultan terhadap Masjid Gedhe ini sangat besar.

Lantas pada tahun 1933 atas prakarsa Sultan Hamengkubuwono VIII lantai serambi masjid diganti dengan tegel kembangan.

Sebelumnya, lantai serambi terbuat dari batu kali. Atap masjid pun juga diganti dari sirab dengan seng wiron yang lebih tebal dan kuat.

Miliki Nilai Sejarah Penting, Arsitektur UII Pilih Kauman Jadi Lokasi Studi

Tahap berikutnya tahun 1936 Sultan Hamengkubuwono VIII mengganti lantai dasar masjid dengan marmer dari Italia.

Lantaran sejarah dan perjalanan panjang masjid ini, pemerintah pun telah menetapkan bangunan ini sebagai cagar budaya dengan Per.Men Budpar RI No. PM.89/PW.007/MKP/2011.

Data

Nama: Masjid Gedhe Kauman

Alamat: Kampung Kauman Kelurahan Ngupasan Kecamatan Gondomanan Kota Yogyakarta

Akses:
- Sisi barat Alun-alun Utara Yogyakarta
- Selatan Titik Nol Kilometer Yogyakarta dan Malioboro

Tiket Masuk: tidak ada (gratis)

(TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved