GRAFIS - Pasang Surut Hubungan AS-Iran setelah Revolusi Islam di Teheran
Hubungan AS-Iran tak pernah harmonis sejak Revolusi Islam Iran tahun 1979. Sebelum itu, AS memiliki hubungan yang sangat akrab dengan Iran
TRIBUNJOGJA.COM - Perseteruan Amerika Serikat dan Iran pasca-kematian Jenderal Qasem Soleimani masih terus berlanjut.
Qasem Soleimani, pemimpin pasukan al-Quds Iran, tewas setelah dihantam rudal oleh pesawat nir-awak AS di Bandara Internasional Baghdad, Jumat (3/1/2020) lalu.
Peristiwa itu memicu kemarahan besar, baik dari warga maupun Pemerintah Iran. Sebagai balasan, Iran menyerang markas militer AS di Irak pada Rabu (8/1/2020) dini hari.
Tak hanya itu, Iran juga menyatakan telah keluar dari kesepakatan nuklir 2015. Merunut ke belakang, sejak kapan perseteruan AS-Iran ini dimulai?
Dosen Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM) Siti Mutiah Setiawati mengatakan, hubungan AS-Iran tak pernah harmonis sejak Revolusi Islam Iran tahun 1979.
"Pertama, kita harus melihat hubungan AS-Iran itu tidak pernah harmonis sejak Revolusi Islam Iran 1979," kata Mutiah , Kamis (9/1/2020).
Sebelum itu, AS memiliki hubungan yang sangat akrab dengan Iran dan selalu mendukung Shah Mohammed Reza Pahlevi.
Bahkan, saat embargo minyak besar-besaran yang dilakukan oleh negara-negara di Timur Tengah karena pendudukan Israel, Iran menjadi pemasok minyak tetap AS.
Saat revolusi, mahasiswa Iran menduduki Kedutaan Besar AS di Teheran selama 444 hari.
Dalam Ilmu Hubungan Internasional, menurut Mutiah, kedutaan dalam suatu negara harus dianggap sebagai perpanjangan wilayah dari negara tersebut.
"Artinya, apa yg dilakukan mahasiswa Iran itu berarti sama dengan menduduki negara," kata dia.
Hal itu diperburuk dengan mencuatnya skandal Iranian Gate, ketika Presiden AS Ronald Reagen diketahui menjual senjata kepada Iran tanpa persetujuan Senat.
Penjualan senjata tersebut dilakukan melalui barter dengan tawanan AS pada tahun 1980.
Mutiah mengatakan, skandal tersebut membuat AS sangat malu karena melanggar undang-undang sendiri.
"Itu bagi AS kan ilegal, kan malu AS karena melanggar UU sendiri," ujar Mutiah.
Dendam-dendam masa lalu itu, menurut dia, menjadi akar penyebab panasnya hubungan AS- Iran hingga saat ini.
Rasa dendam itu kemudian dilampiaskan dengan embargo, bahwa AS dan negara-negara sahabatnya tidak akan mengambil minyak dari Iran.
Selain embargo, AS juga menuduh Iran tengah mengembangkan senjata nuklir.
"Sedangkan menurut Iran sendiri itu untuk kepentingan kemanusiaan, penerangan, dan kedokteran. Tapi kan AS tidak percaya sampai Iran dikenakan sanksi," kata Mutiah.
Menurut dia, citra buruk Iran tersebut membuat banyak negara yang enggan berhubungan dengan Iran.

Pasang Surut Hubungan
Dalam perjalanannya, hubungan AS dan Iran diwarnai pasang surut. Berikut catatan hubungan kedua negara:
1953 - CIA membantu pelengseran Perdana Menteri Iran kala itu, Mohammed Mossadegh dan memulihkan kekuasaan Shah Mohammed Reza Pahlevi.
1957 - AS-Iran menandatangani perjanjian kerjasama nuklir sipil.
1967 - AS memberi Iran reaktor nuklir dan senjata uranium.
1968 - Iran menandatangani Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir yang mengizinkannya memiliki program nuklir sipil sebagai imbalan atas komitmennya untuk tidak membeli senjata nuklir.
1979 - Revolusi Islam Iran memaksa Shah Reza Pahlevi yang didukung AS untuk melarikan diri. Setelah Ayatollah Ruhollah Khomeini kembali dari pengasingan dan menjadi pemimpin tertinggi Iran, ratusan orang menduduki Kedutaan Besar AS di Teheran dan menyandera stafnya.
1980 - AS memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran, menyita aset Iran dan melarang hubungan dagang dengan Iran, serta kegagalan misi penyelamatan sandera yang dipesan oleh Presiden Jimmy Carter.
1981 - Iran melepaskan 52 sandera AS beberapa menit setelah Carter turun dan Ronald Reagan dilantik sebagai presiden AS.
1984 - AS memasukkan Iran ke dalam daftar negara pendukung terorisme. 1986 - Reagan mengungkap perjanjian senjata rahasia dengan Teheran yang melanggar embargo senjata AS.
1988 - Kapal perang AS Vinecennes salah menembak pesawat penumpang yang terbang di atas Teluk Arab dan 290 penumpangnya meninggal.
2002 - Presiden George W Bush menyatakan Iran, Irak dan Korea Utara sebagai "poros kejahatan". Para pejabat AS menuduh Teheran mengoperasikan program senjata nuklir rahasia.
2006 - Washington mengatakan bersedia untuk bergabung dengan perundingan nuklir multilateral dengan Iran jika negara itu menangguhkan program nuklir.
2008 - Bush untuk pertama kalinya mengirim seorang pejabat untuk mengambil bagian secara langsung dalam negosiasi nuklir dengan Iran di Geneva.
2009 - Presiden Barack Obama memberitahu pemimpin Iran bahwa bersedia membantunya jika Iran mau melepas kepalan tangan mereka.
2009 - Inggris, Perancis dan AS mengumumkan bahwa Iran tengah membangun situs pengayaan uranium rahasia di Fordow.
2012 - Hukum AS memberi Obama wewenang untuk menjatuhkan sanksi kepada bank asing jika mereka gagal mengurangi impor minyak Iran secara signifikan. Penjualan minyak Iran pun anjlok dan memicu kemerosotan ekonomi.
2013 - Hassan Rouhani terpilih sebagai presiden Iran dan memiliki tujuan untuk meningkatkan hubungan Iran dengan dunia.
2013 - Pada bulan September, Obama dan Rouhani berbicara melalui telepon, kontak tertinggi antara dua negara dalam tiga dekade terakhir.
2013 - Pada bulan November, Iran dan enam negara besar menandatangani kesepakatan nuklir dalam pakta Joint Plant of Action. Iran setuju untuk membatasi program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi.
2016 - Iran melepas 10 pelaut AS di perairan teritorial Iran; AS dan Iran melakukan pertukaran tahanan.
2018 - Presiden Donald Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir dan menerapkan kembali sanksi ekonomi kepada Iran. 2019 - AS memasukkan Korps Pengawal Revolusi Iran ke dalam daftar organisasi teroris pada bulan April.
2019 - Iran meningkatkan produksi uranium dan membatalkan komitemennya pada perjanjian nuklikr.
2019 - Pada bulan Juni Iran menembak jatuh pesawat tak berawak AS yang disebut sedang berada di wilayah udara Iran; Iran merebut kapal tanker minyak Inggris.
2019 - Pada bulan September, perusahaan minyak Arab Saudi, Aramco diserang oleh drone dan rudal yang diyakini berasal dari Iran. Teheran membantah terlibat dalam serangan itu.
2019 - Pada bulan Desember terjadi serangan terhadap pangkalan militer AS di Irak yang menewaskan seorang warga AS. AS menyalahkan sekelompok milisi yang didukung Iran dan melakukan aksi balasan dengan menembak pangkalan-pangkalan militer Iran.
2019 - Milisi yang didukung Iran melakukan aksi protes di luas Kedutaan Besar AS di Baghdad dan menyerbu pos keamanan.
2020 - Jenderal top Iran Qasem Soleimani meninggal dalam serangan udara AS yang dilakukan atas arahan Donald Trump. (Ahmad Naufal Dzulfaroh)
.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Merunut Akar Konflik Iran-Amerika Serikat"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ilustrasi-konflik-as-iran.jpg)