Yogyakarta

Peneliti UGM Nilai Sampah di TPST Piyungan Harus Dikelola dengan Benar

Jika TPST Piyungan tidak dikelola dengan baik, maka akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan yang dapat mencemari lingkungan.

Peneliti UGM Nilai Sampah di TPST Piyungan Harus Dikelola dengan Benar
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
TPST Piyungan 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Peneliti Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) UGM, Sulistyono mengungkapkan, persoalan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan harus dikelola dengan benar.

Sebab menurut dia, selama ini, sampah yang ada di TPST Piyungan tidak dipilah-pilah.

Selain itu, sampah-sampah tersebut juga tidak diolah menjadi produk lain sehingga sampah tersebut hanya sekedar ditumpuk saja.

Sekda DIY: TPST Piyungan Bukan Solusi Akhir Sampah di DIY

"Jadi tidak ada upaya untuk dibuat menjadi produk yang lain, misalnya dijadikan kompos kalau itu organik. Kalau non organik, semisal plastik bisa dibuat biji plastik nanti kan bisa dimanfaatkan untuk yang lain. Jadi barang yang sudah menumpuk bisa diolah, nanti sudah berkurang jumlahnya sementara dari luar masuk-masuk terus, dan itu proses bisa berkesinambungan," ujarnya Selasa (7/1/2020).

Jika TPST Piyungan tidak bisa dikelola dengan baik, maka tentu akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan yang dapat mencemari lingkungan baik dari sisi udara, air dan tanah.

Dampak terhadap lingkungan tersebut yakni gas metan yang mengendap dapat menimbulkan ledakan.

"Pernah ada kejadian di Bantargebang sampai meledak karena gas metan yang menumpuk tidak bisa keluar,  jumlahnya banyak sehingga seperti ledakan besar. Kemudian nanti jika cairannya meresap ke bawah nanti masuk ke sistem air di dalam tanah sehingga nanti bisa jadi pencemaran air juga di daerah terdekat," kata dia.

Kamu Wajib Coba! Tiga Tips Super Gampang Membuat Lipstick Tahan Lama

Menurut dia, setiap wilayah sudah saatnya memiliki TPST sendiri untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPST Piyungan.

Sebab selama ini TPST Piyungan tidak hanya menampung sampai dari Kabupaten Bantul, tetapi juga menampung sampah dari Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman.

"Karena itu menjadi kewenangan daerah masing-masing dan sampah berasal dari penduduk lokalnya. Kalau misalnya masing-masing punya tempat pengelolaan sampah sendiri maka menjadi tanggung jawab masing-masing wilayah," jelasnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Noristera Pawestri
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved