Yogyakarta
Pakar Sebut Rasio Polisi dan Masyarakat Tinggi
Ia menilai, rasio yang tidak seimbang juga menyulitkan polisi untuk melakukan pengamanan secara optimal.
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Ari Nugroho
Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pakar Sosiolog Kriminalitas UGM, Suprapto menilai rasio polisi dan masyarakat di Indonesia masih tinggi.
Saat ini rasio polisi dengan masyarakat sekitar 1:2000, padahal rasio di negara lain sekitar 1:600.
Ia menilai, rasio yang tidak seimbang juga menyulitkan polisi untuk melakukan pengamanan secara optimal.
Sebab tidak seluruh daerah terpantau polisi.
• Sosiolog UGM : Instruksi Gubernur Langkah Sudah Baik, tapi Seharusnya Bisa Diselesaikan di Kabupaten
"Sebenarnya upaya pemerintah dan aparat tidak kurang-kurang. Rasio di Indonesia 1:2000, di negara lain 1:600. Tidak bisa semua daerah terpantau," katanya, Selasa (26/11/2019).
Untuk antisipasi, pihak kepolisian harus meningkatkan intensitas patroli.
Patroli harus difokuskan pada daerah-daerah yang sepi dan dianggap rawan.
Menurut dia, daerah tersebut menjadi sasaran tindak kejahatan.
"Rumusnya adalah niat ditambah kesempatan bisa menjadi kejahatan. Untuk preventif ya harus diminimalkan kesempatan yang ada. Sarannya intesitas patroli ditingkatkan. Harus jadi pertimbangan daerah yang sepi,"ujarnya.
Ia melanjutkan, aksi kejahatan jalanan yang saat ini disebut klitih tersebut tidak hanya terjadi di Yogyakarta.
Kejadian serupa juga pernah terjadi di Surabaya, Semarang, dan kota lainnya.
• Kriminolog : Jangan Mudah Percaya Dengan Keterangan Pelaku Pembacokan
Aksi kejahatan jalanan, terjadi karena perubahan kegiatan masyarakat.
Saat ini masyarakat lebih banyak beraktivitas di luar daripada pekerjaan domestik dalam rumah. Untuk itu tindak kejahatan lebih banyak terjadi di luar rumah.
Terkait motif, aksi kekerasan jalanan bisa jadi merupakan ajang unjuk gigi bagi suatu kelompok.
Bahkan aksi tersebut merupakan salah satu proses inisiasi untuk bergabung dalam kelompok tertentu.
"Ya untuk antisipasi aksi tersebut tidak bisa hanya polisi, tetapi juga masyarakat, khususnya orangtua. Orangtua juga harus sensitif terhadap anaknya. Kadang anak yang melakukan aksi kekerasan hanya sebagai alat saja, karena hukuman pada anak jauh lebih ringan," tambahnya.(TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ilustrasi-kriminal_20180801_161800.jpg)