Sangat Mudah! Ini 4 Cara Mengenali Gejala Stroke Sejak Dini

Dikutip dari alodokter, stroke merupakan kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke otak terganggu atau berkurang akibat penyumbatan

Penulis: Mona Kriesdinar | Editor: Mona Kriesdinar
everyhealth.com
ilustrasi 

Stroke menjadi salah satu gangguan kesehatan yang cukup diderita.

Sebenarnya apa itu stroke?

Dikutip dari alodokter, stroke merupakan kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke otak terganggu atau berkurang akibat penyumbatan (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik). Tanpa darah, otak tidak akan mendapatkan asupan oksigen dan nutrisi, sehingga sel-sel pada sebagian area otak akan mati.

"Dibandingkan dengan 20 tahun yang lalu, insiden stroke meningkat sighnifikan pada orang dewasa muda," kata ahli saraf neurologis Diana Greene-Chandos, M.D., direktur perawatan neurokologis di The Ohio State University Wexner Medical Center.

"Angka rawat inap stroke iskemik (berhentinya aliran darah pada otak akibat gumpalan darah) meningkat baik untuk pria dan wanita di bawah usia 45 tahun. Di rentang usia 18 sampai 34, tingkat rawat inap untuk stroke iskemik akut meningkat 31,8 persen, sementara di rentang usia 35 sampai 44 jumlahnya meningkat 30 persen."

Dr. Greene-Chandos menilai, kebanyakan orang dewasa muda tidak menganggap skrining kesehatan seperti tes kolesterol, tekanan darah, dan gula darah adalah hal yang perlu dilakukan sampai mereka beranjak lebih tua. Padahal, skrining rutin tersebut dapat memberi gambaran tentang risiko stroke.

Selain itu, adanya peningkatan besar pada faktor risiko stroke umum seperti hipertensi, kelainan lipid, diabetes, penggunaan tembakau, dan obesitas, juga menjadi penyebab meningkatnya kasus stroke di usia muda. Studi di JAMA Neurology menemukan bahwa gangguan lipid-juga dikenal sebagai kolesterol tinggi-meningkat paling banyak, dari sekitar 12 persen menjadi 21 persen.

Ironisnya, risiko stroke justru menurun untuk orang dewasa yang lebih tua, menurut Koto Ishida, M.D., direktur Pusat Stroke Komprehensif NYU Langone. Menurut studi JAMA Neurology, tingkat rawat inap stroke pada orang berusia 55 sampai 64 benar-benar menurun 2,2 persen.

Itu karena faktor risiko seperti kolesterol dan tekanan darah biasanya dikelola lebih baik pada usia di atas 50 tahun.

"Orang dewasa yang lebih tua lebih peduli tentang masalah semacam ini, jadi mereka akan melakukan skrining," katanya. "Tapi seseorang di usia dua puluhan biasanya tidak memikirkan sesuatu seperti tekanan darah kecuali sampai benar-benar ada masalah."

Cara Mengenali Gejala Stroke Ringan

Stroke ringan atau Transient Ischemic Attack (TIA) janggan dianggap sepele. Stroke ringan merupakan tanda sudah ada gangguan pembuluh darah di otak.

Stoke ringan bisa menjadi stroke berat dan menyebabkan kecacatan hingga kematian. Seperti dikutip dari situs Medical Daily, cara cepat mengenali dan mengatasi stroke ringan adalah dengan FAST (Face, Arms, Speech, dan Time).

1. Face (wajah) 

Stroke ringan bisa menyerang bagian wajah. Mintalah orang yamg dicurigai stroke untuk tersenyum. Apabila wajah atau mulutnya menjadi tidak simetris saat senyum, waspadai stroke.

2. Arms (lengan)

Mintalah orang yang dicurigai stroke mengangkat kedua lengannya dan tahan selama beberapa detik. Apabila salah satu lengan turun atau tidak bisa diangkat, kemungkinan mengalami stroke ringan.

3. Speech (bicara)

Stroke juga memengaruhi cara bicara seseorang karena terjadi gangguan pada bagian otak tertentu. Stroke bisa membuat bicara melantur dan tidak jelas.

4. Time (waktu)

Waktu sangat berarti bagi kesehatan otak. Ketika sudah mengalami gejala tersebut, sebaiknya segera bawa ke dokter, sekalipun gejala tiba-tiba hilang. Tindakan ini untuk mencegah kerusakan di otak meluas.

Sementara itu, menurut American Stroke Association, ada beberapa gejala tambahan untuk stroke ringan yang dapat dikenali.

1. Mati rasa pada wajah, lengan atau kaki. Mati rasa biasanya hanya terjadi pada satu sisi tubuh.

2. Kebingungan, kesulitan berbicara dan memahami sesuatu.

3. Tiba-tiba mengalami kesulitan melihat pada satu atau kedua mata.

4. Kesulitan berjalan, pusing, kurang bisa menjaga koordinasi dan keseimbangan tubuh.

5. Sering sakit kepala yang cukup parah tanpa tahu penyebabnya dengan pasti.

Dokter Emil Matarese dari Medical Center St Mary, mengingatkan, kapan pun mengalami gejala tersebut, jangan tunda pemeriksaan ke dokter. Stroke pun kini tak hanya menyerang usia tua, tetapi juga usia muda.

FAST (Face, Arm, Speech, Time) biasanya menjadi tanda awal adanya serangan stroke. Satu sisi tubuh akan mengalami efek saat stroke saat terjadi di otak, membuat wajah seseorang menjadi tidak simetris, tak mampu mengangkat lengan di satu sisi, ucapan samar atau bingung, dan mungkin mempengaruhi kemampuan ingatan dan verbal.

Namun, kini tidak semua stroke terlihat seperti insiden FAST yang klasik, kata Dr. Greene-Chandos. Orang dewasa yang lebih tua cenderung terpengaruh pada pembuluh darah yang lebih besar, membuat mereka cenderung memiliki "gejala stroke besar" seperti wajah yang terkulai.

Sedangkan orang yang lebih muda cenderung mengalami penggumpalan darah dari area tubuh yang lain dan gumpalan darah itu dapat bergerak melalui pembuluh darah yang lebih kecil. Dr Greene-Chandos mengatakan, perbedaan inilah yang sering menyebabkan gejala stroke pada dewasa muda kerap berbeda, lebih sering berupa mati rasa, kesemutan, atau sakit kepala.

Dr Greene-Chandos menambahkan bahwa orang yang memiliki stroke cenderung mengalami sakit kepala hebat yang melemahkan, dan bahwa orang-orang yang menderita migrain biasa sebenarnya berisiko lebih besar terkena stroke. Bahkan cegukan yang tidak bisa diatasi juga bisa menjadi gejala stroke, catatnya.

"Anda bisa saja mengalami stroke ringan dan tidak menyadarinya," kata Dr. Greene-Chandos. "Anda bahkan bisa mengalami banyak stroke dan tidak memiliki gejala fisik. Tapi seiring berjalannya waktu, perubahan otak bisa mempengaruhi ingatan dan ucapan Anda secara signifikan. Jadi, lakukan cek kesehatan rutin, walaupun Anda berpikir masih terlalu muda dan Anda sehat.”

Dr. Greene-Chandos mencatat, jangan berpikir bahwa stroke hanya untuk orang tua. Hal itu kini tidak berlaku lagi. Menerapkan gaya hidup sehat, seperti konsumsi makanan dengan gizi seimbang serta olahraga rutin, adalah langkah sederhana dan terbaik dalam pencegahan stroke. (*/kompas)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved