Bisnis

Mendulang Omset Ratusan Juta Rupiah dari Limbah Plastik PVC

Sampah plastik berjenis Poly Vinyl Chloride (PVC) diolah menjadi pipa. Kini, ia mampu memproduksi maksimal sekitar 2.000 batang pipa per hari.

Penulis: Yosef Leon Pinsker | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Yosef Leon
Suasana pabrik produksi pipa berbahan sampah plastik, Selasa (27/8/2019). 

TRIBUNJOGJA.COM - Tidak ada jalan yang singkat untuk menekuni dunia usaha, apalagi berkeinginan untuk besar dan berkembang.

Mungkin itu ungkapan yang tepat untuk Boy Candra.

Setelah puluhan tahun menekuni dunia usaha dan tentu saja jatuh bangun, kini ia fokus mengolah onggokan sampah plastik menjadi pipa.

Boy pernah merasakan kejayaannya sewaktu menjalani usaha otomotif di Jakarta.

Sebelum reformasi, bisnisnya sukses bukan kepalang.

Jaringan Pipa Gas Segera Dibangun di Kota Yogyakarta

Memasuki tahun 2000 tiba-tiba ia bangkrut sebangkrut-bangkrutnya.

Singkat cerita, 2003 Boy berpindah-pindah tempat hingga kemudian menetap di Bantul, D I Yogyakarta.

Kemudian ada pelanggan lamanya yang menawarkan untuk memulai usaha sampah plastik.

Waktu itu, harga sampah plastik di Yogyakarta masih sangat murah.

Pengepul hanya membayar sekira Rp300-Rp400 dari para pengepul kecil.

Sementara, harga jual di Jakarta bisa mencapai Rp2.700.

"Setelah saya kalkulasikan modal dan biaya angkut ke Jakarta, saya kemudian pasang harga tinggi untuk beli plastik dari pengepul. Waktu itu saya berani kasih harga Rp800-Rp1.000," kata Boy saat ditemui di kediamannya, Pajangan, Bantul, Selasa (27/8/2019).

Pemda DIY Akan Terus Evaluasi Pelaksanaan Uji Coba Semi Pedestrian Malioboro

Otomatis, harga yang dipatoknya membuat pengepul lain berang.

Setelah bermusyawarah, Boy akhirnya sepakat hanya akan membeli sampah plastik berjenis Poly Vinyl Chloride (PVC).

Plastik ini biasa disebut toples sebagai tempat wafer atau jajanan lain.

Saat itu, masih sangat jarang ada yang mengolah PVC karena kerumitannya.

Pada 2008, Boy kemudian berpindah tempat dan membeli lokasi pengolahan sekitar 500 m dari kediamannya saat ini.

Tanah seluas 1000m² dijadikannya tempat untuk memproduksi raw material, yakni barang mentah untuk diproduksi kembali menjadi pipa.

Dinas Koperasi dan UKM DIY Ajak Pelaku UMKM Rambah Pemasaran Online

Saat itu, Boy sudah berangan-angan akan memproduksi pipa sendiri, namun ia menjalaninya secara bertahap.

"Jadi memang sangat lama proses saya untuk membuat pipa sendiri. 2016 baru saya mulai produksi. Jadi memang butuh konsistensi dan fokus," imbuhnya.

Kini, ia mampu memproduksi maksimal sekitar 2.000 batang per hari dengan rincian tiap mesin menghasilkan 600-700 batang.

Ia sekarang punya tiga mesin yang bekerja 24 jam non stop.

Pipa berbagai ukuran dihasilkan mulai dari ukuran 5/8 inch, 1/2 inch, 3/4 inch, 1 1/4 inch, 11/2 inch, 2 inch, 2 1/2 inch, 3 inch, dan 4 inch.

Kebutuhan plastik untuk tiap batang pipa juga berbeda-beda, tergantung ukuran dan besar pipa.

Boy menjelaskan, kalau untuk tipe C3 bisa menghabiskan 2,5 kg per batang dengan panjang 4 m.

Kondisi Ekonomi Konsumen DIY di Triwulan IV 2019 Diperkirakan Lebih Optimis

Kemudian kalau tipe D bisa memakan plastik hingga 3 kg, sementara yang paling tebal yakni AW menghabiskan 3,5 kg per batang pipa.

"Target saya sekarang bisa produksi 9 mobil colt diesel per hari. Itu satu mobil muatannya sekitar 2100 batang pipa. Sekarang saya cuman bisa menuhin satu mobil saja," imbuhnya.

Boy mengaku masih terkendala dari sisi modal karena membutuhkan mesin baru untuk mencetak pipa.

Permintaan disebutnya masih tetap banyak, begitupun dengan bahan baku tidak menjadi kendala.

Dalam sehari ia bisa menampung hingga 1-2 ton sampah plastik.

Untuk proses produksi, sampah plastik terlebih dulu dipilah untuk membedakan plastik berjenis PVC.

Kemudian masuk ke proses penggilingan.

UNBOXING KULINER: Snack Hits Super Ekonomis di Jogja

Setelah menjadi berbentuk tepung, baru kemudian dimasukkan ke dalam mesin untuk dicampur dengan sejumlah bahan lain.

Baru dicetak menjadi pipa.

Semuanya melewati tiga tahap produksi mesin.

"Pekerja sekarang sudah hampir 100 orang. Itu warga sekitar sini semua," ujarnya.

Pipa produksinya kerap digunakan untuk saluran air kotor rumah tangga, dipakai di rumah bersubsidi, dan penggunaan untuk pertanian hidroponik.

Ia juga hanya memasok untuk distributor, baik di Jawa maupun luar Jawa.

Dalam sebulan, Boy mengaku bisa mengantongi omzet hingga Rp100 juta. (TRIBUNJOGJA.COM)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved