Berenang bersama Ikan Duyung dan Melihat Surga di Bawah Laut Sangihe

Sangihe memiliki surga bawah lautnya, yang tak kalah memukau dengan Bunaken. Di sini juga terdapat gunung api bawah laut.

Editor: iwanoganapriansyah
NGI/Deden Iman Wauntara
Penyelam berada di atas hamparan terumbu karang di laut Petta, Kepulauan Sangihe. 

Terkendala Jaringan Internet

Sedangkan menurut Michal, sebelum memutuskan untuk tinggal di Sangihe mereka hampir saja tinggal dan menetap di Maluku. Di Sangihe lelaki ini jatuh cinta dengan keindahan alamnya.

“Aku suka karena pulaunya tidak kecil dan tidak terlalu besar, ada gunungnya, pantai dan lautnya apalagi keidahan terumbu karangnya masih bagus,” ujarnya.

Nelayan bersiap untuk menurunkan ikan hasil tangkapannya yang akan di jual ke pasar Tahuna, Sangihe.
Nelayan bersiap untuk menurunkan ikan hasil tangkapannya yang akan di jual ke pasar Tahuna, Sangihe. (NGI/Josua Marunduh)

Namun, mereka masih terkendala dalam mempromosikan wisata di Sangihe. Salah satunya soal jaringan komunikasi. Mereka ingin mengunggah foto atau video tentang alam dan keindahan wisata bawah laut di Sangihe, namun saat ini masih sangat sulit.

“Di sini jaringan lambat, susah kalau mau upload foto-foto atau video,” keluh Iba, “Kita harus nunggu sampai tengah malam dan itu pun lama prosesnya.”

Dia berharap, program Palapa Ring Paket Tengah mampu memperluas dan menambah kapasitas jaringan sehingga memudahkan dirinya dan pelaku usaha lainnya untuk mempromosikan wisata di Sangihe.

Menyelam bersama Ikan Duyung

Kami juga berkenalan dengan pemandu selam Polnustar Diving Center, Herjumes Atjin. Pria berperawakan kecil dengan rambut sebahu ini lebih dikenal dengan nama Ucil.

Herjumes Aatjin, pemandu selam di Polnustar Dive Center, Tahuna, tengah menyiapkan busana menyelam.
Herjumes Aatjin, pemandu selam di Polnustar Dive Center, Tahuna, tengah menyiapkan busana menyelam. (NGI/Josua Marunduh)

Dia menceritakan kepada kami tentang terumbu karang, ikan kecil, ikan besar, sampai keindahan karang di sejumlah titik penyelaman di Sangihe.

“Di sini karangnya masih bagus-bagus, banyak ikan dan karangnya masih rapat-rapat semua,” ujarnya.

Bukan hanya ikan dan dugong atau ikan duyung yang Ucil ceritakan, tetapi juga cerita tentang jangkar tua di Tahuna Timur, kapal tua yang karam di Pelabuhan Tua Sangihe, serta gunung api bawah laut yang ada di Pulau Mahangetan.

“Di sini itu masih ada banyak ikan, mulai ikan kecil sampai ikan besar, ada juga gunung api di bawah laut. Yah, seperti surga di bawah lautlah,” tambahnya.

Awalnya Ucil adalah seorang pecinta alam, yang sering naik turun gunung. Namun, berkat cerita dan melihat gambar-gambar keindahan bawah laut yang ada di Sangihe, dia termotivasi untuk mencintai dan terjun menjadi pemandu wisata bawah laut.

“Dulu hanya lihat ikan-ikan, seperti hiu dan karang yang indah-indah itu hanya di televisi, sekarang saya bisa lihat langsung dan bisa dekat dengan ikan-ikan besar termasuk dugong (ikan duyung),” ujarnya berkisah. (NGI)

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved