Jawa

BPPTKG: Erupsi Merapi Terakhir Tergolong Erupsi Kecil, Potensi Selanjutnya Masih Ada

BPPTKG Yogyakarta menyatakan erupsi Gunung Merapi yang terjadi pada Minggu (17/11/2019) tergolong erupsi kecil

Penulis: Rendika Ferri K | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Rendika Ferri
Hanik Humaida, Kepala BPPTKG Yogyakarta, Rabu (20/11/2019) saat kunjungan ke Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri K

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta menyatakan erupsi Gunung Merapi yang terjadi pada Minggu (17/11/2019) tergolong erupsi kecil.

Meski demikian, potensi erupsi selanjutnya masih ada.

"Setelah erupsi kemarin, ada penurunan kegempaan. Namun demikian bukan berarti Merapi diam, potensi masih ada. Kalau terjadi, erupsi masih kecil, termasuk erupsi yang kemarin terjadi adalah erupsi kecil dan itu merupakan salah satu karakter merapi," ujar Hanik Humaida, Kepala BPPTKG Yogyakarta, Rabu (20/11/2019) saat kunjungan ke Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.

Lanjut Hanik, erupsi kecil ini melihat dari Volcanic Explosivity Index (VEI) atau ukuran relatif dari letusan gunung berapi pada Gunung Merapi saat ini hanya satu.

BPPTKG Laporkan Merapi Tidak Mengalami Guguran Lava

Berbeda pada erupsi tahun 2010 lalu, VEI mencapai empat.

Lontaran material yang terlempar ke luar mencapai 130 juta meter kubik.

Sementara pada erupsi kemarin hanya puluhan ribu meter kubik saja.

"Kemarin itu VEI-nya hanya satu. Sementara kemarin tahun 2010, itu VEI-ya empat, dengan melontarkan material lebih dari 130 juta meter kubik. Kemarin itu hanya puluhan ribu meter kubik dan ini adalah karakternya merapi," ujarnya.

Dikatakan Hanik, pemicu erupsi kemarin adalah tekanan gas yang berasal dari dalam.

Gas yang ada di dalam menuju permukaan, terakumulasi di permukaan dan dapat meletus sewaktu-waktu.

Magma pun masih ada, terlihat dari aktivitas kegempaan atau volcano tectonic yang terdeteksi.

"Pemicu karena gas dari dalam. Kalau magma banyak komponen utama, ada silika dan sebagainya. Ada gasnya juga. Gas yang ada di dalam menuju permukaan, yang terakumulasi di permukaan, yang bisa neletus sewaktu-waktu. Magma sebagian di puncak. Ada sebagian di dalam. Sekarang pun masih ada. Suplai magma masih ada. Adanya indikasi aktivitas kegempaan ini, volkano tektonik, itu artinya ada suplai magma dari dalam," katanya.

Dampak erupsi yang terakhir terjadi kemarin membawa dampak hujan abu.

Hujan abu tipis turun di daerah dukun dan sawangan di Magelang.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved