Yogyakarta

Pj Sekda Minta Masyarakat 'Update' Info Cuaca BMKG

Penjabat Sekda DIY, Arofa Noor Indriani menjelaskan, masyarakat harus sering memantau perkembangan terkini mengenai perkiraan cuaca dari BMKG.

Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
ilustrasi 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Penjabat Sekda DIY, Arofa Noor Indriani menjelaskan, masyarakat harus sering memantau perkembangan terkini mengenai perkiraan cuaca dari BMKG.

Hal ini sangat penting apalagi bagi petani yang akan menanam jenis tanaman sesuai musimnya.

"Petani kami harapkan bisa menyesuaikan cuaca yang ada. Apalagi saat ini sudah ada info update dari BMKG. Sudah tidak bisa lagi andakan pranata mangsa karena sudah geser, " jelasnya, Selasa (29/10/2019).

BMKG Prediksi Musim Hujan di Bantul Akan Mulai Terjadi pada Pertengahan November 2019

Arofa mengatakan, update informasi cuaca ini diperlukan untuk menentukan jenis tanaman yang cocok ditanam oleh para petani.

Hal ini agar jangan sampai para petani salah menerapkam pola tanam.

"Jangan sampai kecele dikira musim hujan ternyata datang hanya karena angin. Musim bukan kendala karena setiap tahun seperti ini, " jelasnya.

Meski dari prediksi BMKG musim hujan diperkirakan masuk pada awal November, masyarakat harus juga melakukan upaya antisipasi.

Diantaranya adalah terkait dengan ancaman musim pancaroba.

Masuki Pancaroba, Sejumlah Wilayah DIY Mulai Turun Hujan Intensitas Ringan

Kepala Pelaksana BPBD DIY Biwara Yuswantana menjelaskan, dropping air selama musim kemarau telah dilakukan dengan total volume mencapai 49 juta liter air bersih.

Jumlah itu telah menyasar empat kabupaten, 40 kecamatan pada 115 desa di DIY.

Angka itu meningkat 100 persen dari sebelumnya yang dilaporkan awal September 2019 lalu yang hanya 19 juta liter.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY memastikan kebutuhan dropping air masih bisa dilakukan pemerintah dibantu swasta.

Berdasarkan data BPBD DIY, kebutuhan air bersih yang sudah terdistribusikan di Bantul mencapai 2,34 juta liter bantuan pemerintah dan 983.000 liter dari swasta, diberikan kepada 40 dusun pada 18 desa.

Kemudian di Kulonprogo sebanyak 810.000 liter dari pemerintah dan 627.000 liter dari swasta untuk 86 dusun di 24 desa.

Sedangkan di Sleman termasuk paling sedikit hanya 2,77 juta liter air bersih untuk 13 dusun pada lima desa terdampak.

Gunungkidul menjadi kabupaten paling parah dengan jumlah distribusi air bersih dari pemerintah mencapai 27,185 juta liter dan bantuan swasta sebanyak 14,358 juta liter air bersih yang diberikan kepada 164 dusun di 68 desa. (TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved