Pendidikan

Diikuti Perguruan Tinggi dan Dance Company dari 5 Negara, ISI Yogyakarta Gelar IDCF 2019

ISI Yogyakarta untuk pertama kalinya bakal melangsungkan agenda International Dance Conference and Festival (IDCF) 2019 pada 27-28 Oktober mendatang.

Tayang:
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Azka Ramadhan
Ketua Panitia IDCF 2019, Bambang Pudjasworo 

TRIBUNJOGJA.COM - Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta untuk pertama kalinya bakal melangsungkan agenda International Dance Conference and Festival (IDCF) 2019, pada 27-28 Oktober mendatang. 

Mengusung tema Dance, Industry and Media, IDCF 2019 akan diikuti oleh beberapa perguruan tinggi, maupun dance company dari lima negara di berbagai penjuru dunia, layaknya Amerika Serikat, Australia, Thailand, Korea Selatan dan Indonesia.

Sebut saja, Victorian College of the Arts University of Melbourne, Srinakharinwirot University, California  Institute of the Arts, Dana Taisoon Dance Company, Ari Rudenko Prehistoric Body Theatre, Visual Theatre Company CCOT, ISI Padang Panjang, ISBI Bandung, Universitas Negeri Malang, lalu KHP Kridha Mardawa Keraton Yogyakarta dan Puro Pakualaman.

Tutorial Make Up ke Sekolah, Tampil Kece Tanpa Kena Marah Guru Ala Tasya Farasya

"Beberapa yang kita undang ini punya MOU dengan kami ya, sekaligus untuk mempererat kerja sama yang sudah terjalin selama ini," ucap Ketua Panitia IDCF 2019, Bambang Pudjasworo, saat jumpa pers di kampus setempat, Kamis (24/10/2019).

Ia menjelaskan, latar belakang digelarnya IDCF 2019 yakni perkembangan industri budaya yang ditunjang kekuatan sektor perdagangan, menyebabkan  perubahan bentuk dan genre seni pertunjukan tradisi.

Bahkan, tak jarang, seni pertunjukan tradisi pun mengalami transformasi, supaya laku dijual

"Sadar atau tidak sadar, di tengah arus globalisasi ini, perkembangan seni pertunjukan, termasuk tari, banyak dipengaruhi oleh kehadiran industri budaya yang kini semakin masive," katanya.

Melalui IDCF 2019, pihaknya ingin membahas secara intens, sekaligus bertukar pikiran, mengenai berbagai polemik yang meliputi perkembangan seni pertunjukan dewasa ini.

Jurnalis Foto, Oscar Matuloh, Dianugerahi Gelar Empu Ageng, dari ISI Yogyakarta

Pada akhirnya, hasil dari konfrensi tersebut akan menjadi input bagi institusi.

"Kasusnya tentu beda-beda, meski masalah yang dihadapi hampir sama. Tapi, kan ada beberapa yang strateginya mungkin sudah lebih maju. Ini juga terkait penyusunan kurikulum, sehingga hasil pembelajaran makin meningkat," cetusnya.

Di samping rangkaian konfrensi dan festival, tambah Bambang, terdapat efek lain dengan kehadiran para pakar dari luar negeri yang secara khusus diminta untuk mengisi master class.

Satu di antaranya yakni komposer kenamaan Amerika Serikat, David Rosenboom.

"Ya, beliau akan mengisi master class di jurusan musik. Tentu saja, ini kesempatan menarik yang harus dimanfaatkan oleh mahasiswa," pungkas pria yang juga menjabat sebagai Pembantu Dekan I FSP ISI Yogyakarta itu. (TRIBUNJOGJA.COM)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved