Yogyakarta

Pasca Kericuhan, Gubernur DIY Khawatirkan Nasib Stadion Mandala Krida

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengkhawatirkan akan nasib Stadion Mandala Krida.

Tayang:
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Agung Ismiyanto
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengkhawatirkan akan nasib Stadion Mandala Krida.

Hal ini karena Sultan prihatin dengan ulah para penonton dan oknum suporter yang tidak bertanggungjawab dan merusak fasilitas negara.

"Kami khan khawatir suatu saat Stadion Mandala Krida dengan ongkos biaya besar bisa rusak. Kalau penonton orang Yogya itu yang diutamakan kekerasannya ketidak beradabannya daripada menonton sepak bola," paparnya kepada wartawan di kompleks Kepatihan, Selasa (22/10/2019) sore.

Saat disinggung terkait rencana hibah stadion tersebut pada Pemkot Yogya, Sultan menyebut belum memberikannya.

11 Rekomendasi Restoran Jepang di Kota Yogyakarta yang Perlu Kamu Tahu

Dia juga menyebutkan dengan adanya kejadian ini juga ada pertimbangan lain soal hal ini.

"(Soal hibah) engga belum memberikan itu kok. (Ada pertimbangan) ya nanti suatu saat khan bisa rusak juga stadionnya," katanya.

Sultan juga masih mempertimbangkan jika akan ada pertandingan sepak bola dengan kasus ini.

"Ya, soal izin kami jadi berpikir lah," urainya.

Terkait dengan rencana penggunaan stadion tersebut untuk ajang FIFA U20, Sultan menyebut hal ini adalah masalah lain.

Hal ini pun masih harus dilengkapi dan masih belum selesai terkait dengan infrastrukturnya.

"Masih harus melengkapi lampu, pembatas antara penonton dan pemain. Hal ini khan perlu kita selesaikan juga," jelasnya.

Wagub DIY : Oknum Perusak Fasilitas Negara Harus Ditindak Sesuai Aturan

Sultan HB X juga mengaku tak habis pikir dengan ulah oknum yang sengaja membuat kekacauan dan merusak fasilitas negara ini.

Dia menyebut orang Yogya tidak punya karakter seperti itu dengan merusak fasilitas dan mengutamakan kekerasan.

"Saya tidak tahu ya alasannya tapi mengapa harus kekerasan itu yang terjadi. Toh, dari Solo juga enggak datang suporternya gak ada. Khan disuruh pulang di Prambanan," jelasnya.

Sultan juga melihat para suporter inj justru bukan mengutamakan melihat sepak bola tapi justru kekerasan.

Bahkan, dia menyebut perbuatan para oknum suporter ini juga tidak beradab.

"Orang Yogya tidak punya karakter seperti itu. Harapan saya jadi penonton yang baik," jelasnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved