Yogyakarta
Keris Masih Dianggap Mistis, Komunitas LKK Akan Lakukan Edukasi
Komunitas Lingkar Kajian Keris (LKK) akan berusaha mengedukasi masyarakat terkait dengan pemahaman masyarakat mengenai keris.
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Komunitas Lingkar Kajian Keris (LKK) akan berusaha mengedukasi masyarakat terkait dengan pemahaman masyarakat mengenai keris.
Hal ini agar masyarakat dapat melestarikan budaya terutama budaya keris, karena edukasi untuk masyarakat merupakan investasi intelektual yang berharga dan dapat bertahan lama.
Ki Pramono Pinunggul, Ketua Komunitas Lingkar Kajian Keris menyampaikan, bahwa selama ini banyak pemahaman masyarakat yang salah terhadap keris.
Masih banyak masyarakat yang menganggap keris sebagai benda yang mistis.
• 11 Rekomendasi Restoran Jepang di Kota Yogyakarta yang Perlu Kamu Tahu
"Keris ini identik dengan mistis dan syirik. Ada yang takut menggunakan pada saat acara mantenan sekalipun," katanya usai bertemu dengan Wagub DIY, Selasa (22/10/2019).
Untuk itu, kata dia, pihak komunitasnya memiliki tugas untuk meluruskan pemahaman tersebut dengan mengedukasi tentang keris kepada masyarakat melalui kegiatan kegiatan yang bermanfaat, seperti pameran dan kajian keris.
Perlu diketahui, Komunitas Lingkar Kajian Keris merupakan sebuah Komunitas yang mewadahi studi seputar problematika terkait keris dan benda pusaka, dan memberi apresiasi dan wacana budaya keris secara proporsional.
Dalam audiensi tersebut komunitas LKK memohon kepada Wakil Gubernur DIY berkenan memberikan dukungan serta nasehat, agar komunitas LKK dapat lebih terarah dan mengedukasi.
Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X mengapresiasi dan mendukung adanya komunitas LKK.
• Komunitas Lingkar Kajian Keris Berharap Rencana Pembangunan Museum Keris Bisa Cepat Direalisasikan
Perkembangan zaman saat ini semakin luas, ada beberapa orang yang mencintai budaya dan ada beberapa orang yang tidak peduli akan budayanya.
Akan tetapi ketidakpedulian orang akan budaya itu tidak bisa ditahan, karena semua orang memiliki haknya masing masing, maka yang perlu diberikan adalah pemahaman yang dimulai dari silaturahmi dan perlahan-lahan mengenalkannya.
Menurutnya, Yogyakarta memiliki kurang lebih empat kelompok pecinta keris, dan masing masing kelompok memiliki ciri khasnya dan keunggulannya masing masing.
Burung yang bulunya sama, cenderung berkelompok, akan tetapi yang diharapkan untuk masing masing kelompok harus ada kemaslahatan, dan harus berguna dan memiliki nilai tambah untuk edukasi masyarakat.
“Harapan saya untuk komunitas Lingkar Kajian Keris ialah membentuk komunitas yang terbuka, dan adanya legalitas, karena apabila komunitas memiliki legalitas akan lebih nyaman. Dan komunitas ini diharapkan memiliki sifat paguyuban agar kekeluargaannya semakin dekat dan untuk menjadikan komunitas ini menjadi lebih terkenal dan diakui keberadaannya dapat dimulai lewat tulisan, yaitu tulisan tentang pengenalan keris serta sejarahnya," ujarnya. (TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/berita-yogyakarta_20180911_145553.jpg)