Penjelasan BMKG Kenapa Suhu Udara Jogja Saat Ini Sangat Panas

BMKG Yogyakarta memprediksi suhu panas di wilayah DIY masih berlangsung hingga akhir Oktober 2019. Suhu udara di Jogja saat ini mencapai 35 derajat

Penulis: Andreas Desca | Editor: Mona Kriesdinar
tribunnews.com
Ilustrasi prakiraan cuaca 

Suhu Jogja Saat Ini

BMKG Yogyakarta memprediksi suhu panas di wilayah DIY masih akan berlangsung hingga akhir Oktober 2019. Berdasarkan pencatatan, suhu udara di Jogja saat ini mencapai 35,2 derjat celcius.

Sementara itu, weather.com mencatat suhu udara Jogja saat ini mencapai 37 derajat celcius. Setidaknya itulah yang diperoleh dari hasil pencatatan Weather.com pada aplikasi pencatatan suhunya pada Senin (21/10/2019) siang ini.

Masih berdasarkan Weather.com, cuaca di Yogya tercatat memiliki kelembapan 36 % dan dengan kecepatan angin berkisar antara 19 kilometer per jam.

Suhu udara Yogyakarta pada Senin (21/10/2019) mencapai 37 derajat celcius
Suhu udara Yogyakarta pada Senin (21/10/2019) mencapai 37 derajat celcius (Accu Weather)

Penjelasan BMKG Yogya

Sementara itu, berdasarkan pantauan di Kantor BMKG Stasiun Klimatologi Mlati, tercatat suhu udara Jogja saat ini mencapai 35,2 derajat Celcius.

Kepala Kelompok Analisa dan Prakiraan Cuaca, Sigit Hadi Prakosa, S.P., M.Si menyampaikan kepada tribunjogja.com bahwa kenaikan suhu ini dikarenakan dua faktor.

"Jadi yang pertama, posisi matahari sekarang melintas di selatan Pulau Jawa. Ini membuat intensitas paparan sinar matahari yang diterima oleh wilayah DIY sangat tinggi sehingga menyebabkan kenaikan suhu," jelasnya.

Selain itu, kondisi yang cerah pun ikut andil dalam kenaikan suhu udara yang cukup ekstrim ini.

"Jadi beberapa Hari ini cuaca di Wilayah DIY itu sangat cerah, tidak ada awan. Jadi paparan sinar matahari langsung turun ke Bumi tanpa terhalang apapun. Kalo misalnya kondisi berawan, suhu udara pun akan turun seperti biasanya karena sinar matahari yang sampai ke permukaan itu terhalang," tuturnya.

Selain itu, Sigit juga menjelaskan bahwa kondisi ini akan terjadi hingga akhir Oktober.

"Kemungkinan sampai akhir Oktober cuaca panas seperti ini akan terus berlangsung. Nantinya jika sudah memasuki pancaroba di awal November, suhu udara tidak akan setinggi saat ini," pungkasnya. (*)

 Embung Nglanggeran Mengering

Embung Nglanggeran yang berada di Kecamatan Patuk, Gunung Kidul mengering. Kondisi ini terjadi akibat dari musim kemarau yang berkepanjangan.

Seorang pengelola wisata Embung Nglanggeran, Aris Triyono mengatakan bahwa debit air di Embung Nglanggeran ini sangat tergantung dari air hujan, lantaran termasuk ke dalam tadah hujan.

Waga menimba sumur di Dusun Karangpilang. Satu sumur ini dimanfaatkan oleh 42 KK.
Waga menimba sumur di Dusun Karangpilang. Satu sumur ini dimanfaatkan oleh 42 KK. (TRIBUNJOGJA.COM / Wisang Seto Pangaribowo)

"Air mulai berkurang sejak bulan April, kondisi embung kering sejak dua bulan terakhir," ucapnya saat ditemui 9 Oktober 2019 kemarin.

Ia mengatakan, dalam rentan waktu enam tahun musim kemarau, dua tahun terakhir adalah musim kemarau yang terparah sehingga mengakibatkan air embung kering.

Lanjutnya, biasanya dalam satu tahun saat musim kemarau air embung menyisakan 1-2 meter.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved