Kota Yogya

Penerapan Kawasan Tanpa Rokok di Kota Yogya Perlu waktu

Kawasan pariwisata seharusnya bebas 100 persen dari rokok dan bisa dimasukkan ke dalam satu dari beberapa kawasan tanpa rokok di Yogyakarta.

Penerapan Kawasan Tanpa Rokok di Kota Yogya Perlu waktu
fortune.com
ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM - Country Site Director of Quit Tobacco International untuk Indonesia, Yayi Suryo Prabandari menilai, kawasan pariwisata seperti Malioboro seharusnya bebas 100 persen dari rokok dan bisa dimasukkan ke dalam satu dari beberapa kawasan tanpa rokok (KTR) di Yogyakarta.

Pun jika dilakukan pemasangan area khusus untuk para perokok, dia menyarankan agar ditempatkan di bagian ujung jalan yang berdekatan dengan pos polisi agar para perokok dapat diawasi.

"Soalnya banyak ibu dan anak-anak kan disitu," kata dia saat dihubungi Tribunjogja.com, Selasa (15/10/2019).

Grebek Pasar Isuzu Traga, Lebih Dekat ke Konsumen

Dijelaskannya, berdasarkan Riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2018 lalu, proporsi penyakit asma di DIY akibat kualitas udara yang buruk menjadi nomor satu di Indonesia.

Selain itu, Yogyakarta juga termasuk ke dalam 10 besar proporsi penyakit diabetes, sakit jantung, dan hipertensi yang semuanya berhubungan dengan aktivitas merokok.

Maka itu ia menyarankan agar Pemkot Yogyakarta lebih banyak membangun tempat khusus merokok dan tegas menerapkan Perda KTR.

"Perlu dicermati pembangunan tempat khusus merokok itu mesti dimana saja yang perlu diprioritaskan dan gencar melakukan sosialisasi," imbuhnya.

Forpi Sebut Satpol PP Kota Yogya Belum Berani Tindak Tegas Perokok Bandel

Yayi mengakui, bahwa aturan ini memang membutuhkan waktu untuk bisa berjalan dengan efektif.

Pasalnya, masyarakat masih belum terbiasa dengan aturan dan juga menaatinya.

Pun petugas juga ada sifat sungkan untuk menegur jika mandapati perokok masih melanggar aturan.

Namun di beberapa tempat seperti bandara, masyarakat sudah mulai terbiasa untuk merokok di tempat yang telah disediakan.

"Untuk aturan, masyarakat memang perlu belajar dan butuh waktu. Saya sangat mendukung Jogja untuk menjadi KTR 100 persen karena sudah terlalu banyak asap kendaraan. Kalau ditambah asap lain apa tidak semakin rusak kesehatannya," pungkas dia. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Yosef Leon Pinsker
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved