Bisnis

UKM DIY Tumbuh 2 Persen Per tahun

Pertumbuhan UKM di DIY ini pun didominasi oleh Kabupaten Kulonprogo dengan 131.088 UKM dan menjadi kabupaten tertinggi jumlah UKM.

Tayang:
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
ilustrasi 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pertumbuhan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di DIY tercatat dua persen pertahunnya.

Pihak pemerintah daerah (Pemda) DIY pun terus melakukan pembinaan dan terobosan untuk mendukung jumlah UKM terus berkembang.

“Kami memang secara khusus memiliki pelatihan dan pembinaan untuk meningkatkan kapasitas dan pertumbuhan UKM pertahunnya sudah mencapai 2 persen,” ujar Kepala Dinas Koperasi dan UKM DIY, Srie Nurkyatsiwi kepada Tribunjogja.com, baru-baru ini.

Siwi menjelaskan berdasarkan data yang dimiliki oleh instansinya, jumlah UKM tahun 2018 adalah sebanyak 259.581.

Grebek Pasar Isuzu Traga, Lebih Dekat ke Konsumen

Jumlah ini terdiri dari 141.991 usaha mikro, usaha kecil (64.896), usaha menengah (39.196), dan usaha besar (13.498).

Jumlah tersebut naik dari tahun 2017 yang mencapai 248.217.

Sementara jumlah UKM ini di tahun 2014 mencapai 220.703, tahun 2015 mencapai 230.047, dan tahun 2016 sebanyak 238.619.

Pertumbuhan UKM di DIY ini pun didominasi oleh Kabupaten Kulonprogo dengan 131.088 UKM dan menjadi kabupaten tertinggi jumlah UKM.

Kemudian Kabupaten Gunungkidul dengan jumlah 47.841 UKM, Kabupaten Sleman dengan 33.668 UKM, Kabupaten Bantul dengan 23.394 UKM dan Kota Yogyakarta dengan 23.050 UKM.

Berdasarkan omzetnya, usaha mikro ini maksimal memiliki omzet Rp 300 juta, sementara usaha kecil berkisar Rp 300 juta hingga 2,5 miliar dan usaha menengah Rp 2,5 miliar hingga Rp 50 juta per tahunnya.

Klaten Smartcity Akan Giatkan Ekonomi UMKM

Menurut Siwi, untuk UKM menurut sektor usaha ini didominasi oleh perdagangan (73.970) atau 28 persen, kemudian industri pertanian (67.007) atau 26 persen, industri non pertanian (61.851) atau 24 persen, dan aneka usaha (56.753) atau 22 persen.

“UKM yang punya potensi paling besar adalah fashion dan kuliner. Kami memang arahkan ke fashion agar lebih spesifik,” jelasnya.

Namun, tidak menutup UKM kerajinan juga banyak dilirik oleh pasar manca negara.

Pihaknya pun membina para pelaku UKM dengan berbagai macam pembinaan diantaranya adalah untuk mengikuti kemauan pasar atau market oriented.

Selain itu, meningkatkan kapasitas pelaku, tingkatkan pasarnya ada atau tidak.

Komitmen Kembangkan UMKM, Pemkab Kulon Progo Raih Natamukti Award 2019

“Kami juga mendekatkan mereka ke pasar. Caranya adalah dengan promosi, bagaimana kualitas produk dan juga bagaimana kearifan lokalnya karena ini adalah daerah istimewa,” urainya.

Adapun permasalahan secara umum baik koperasi dan UKM pun hampir sama, yakni terkait dengan kelembagaan dan legalitas, SDM, teknologi, pemasaran dan pembiayaan.

Bahkan, Siwi juga mengakui beberapa kegagalan program dalam membinan UKM yang terus dievaluasi.

“Kegagalan program ini diantaranya karena sasaran tidak pas, tata kalanya tidak pas. Maka, kami benar-benar jeli dalam melaksanakan pembinaan UMKM, untuk menaikkan omzet, serta kelembagaan pemasaran. Misalnya kalau ada event diikutkan, pameran dengan beberapa fasilitas boothnya dari dinas hotel, mall dan tergantung sasaran, market oriented biar tahu,” jelasnya.

UMKM Didorong Ubah Strategi Bisnis Hadapi Industri 4.0

Pembinaan untuk UKM ini juga menyangkut mengenai rasa dan kemasan.

Hal ini karena kemasan juga memegang peran penting selain juga kualitas produknya.

Adapun untuk mendekatkan para pelaku UKM dinas juga memiliki program fair trade dan juga pameran.

Minim

Disinggung  terkait dengan anggaran pembinaan, Siwi menyebut cukup minim.

Hal ini sama dengan anggaran pembangunan yang diambilkan 10 persen dari APBD.

Namun, dia tidak menyebutkan berapa detail nominalnya.

“Cukup minim untuk pembinaan,” katanya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved