Hadapi Revolusi Industri 4.0, Industri Kerajinan dan Batik Perlu Gaet Milenial
Hal ini agar budaya dalam kerajinan dan batik di Indonesia khususnya Yogyakarta dan pulau jawa bisa bertahan.
Penulis: Wahyu Setiawan Nugroho | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Menghadapi revolusi industri 4.0 kerajinan dan batik perlu menggandeng generasi milenial.
Hal ini agar budaya dalam kerajinan dan batik di Indonesia khususnya Yogyakarta dan pulau jawa bisa bertahan.
Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik, Purwati Widowati, menjelaskan perubahan era revolusi industri keempat ini ditandai dengan adanya pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi secara penuh.
Baik dari segi proses produksi maupun seluruh rantai industri.
Hal ini mengakibatkan lahirnya model bisnis baru dengan basis digital untuk mencapai efisiensi yang tinggi dan kualitas produk yang lebih baik.
Dalam masyarakat telah lahir generasi yang sudah mengaplikasikan teknologi informasi dan komunikasi dalam berbagai aspek kehidupan yang disebut generasi milenial.
"Untuk mempertahankan industri kerajinan dan batik di masa yang akan datang, generasi milenial perlu dirangkul sebagai konsumen potensial produk kerajinan dan batik. Akan tetapi perlu pendekatan yang berbeda dengan generasi sebelumnya," katanya disela Seminar Nasional Industri Kerajinan dan Batik (SINBK) bertema 'Inovasi Teknologi Kerajinan dan Batik Menuju Revolusi Industri 4.0' di Hotel Inna Garuda Malioboro, Kota Yogyakarta, Selasa (8/10/2019).
Untuk menyikapi tantangan dan dinamika tersebut, lanjut Purwati, perlu langkah kolaboratif dengan melibatkan beberapa stakeholder.
Baik pemerintahan, asosiasi, pelaku industri hingga akademisi. Salah satu upaya konkrit yang dilakukan adalah melalui seminar ini.
"Tujuannya untuk menyatukan gagasan dan pemikiran dari kalangan industri, pemerintah, perguruan tinggi, atau kalangan profesional dalam bidang kerajinan dan batik mengenai inovasi yang dapat dilakukan untuk memperkuat industri kerajinan dan batik khususnya menyongsong revolusi industri 4.0," tambah Purwati.
Selain itu, Iewat seminar ini juga diharapkan mampu memberikan sebuah wacana berbagai macam teknologi digital dalam hal ini adalah Internet of Things sebagai hal besar selanjutnya yang terkait dengan peluang, tantantan dan permasalahan yang akan dihadapi sekarang dan yang akan datang.
"Kita juga berharap mampu menjadi jembatan sinergi dari berbagai pihak untuk kemajuan industri kerajinan dan batik," tandasnya.
Dikesempatan tersebut, hadir sekaligus membuka seminar yakni Kepala Puslitbang Industri Kimia, Farmasi, Tekstil, Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian, Sony Sulaksono.
Ia menyebut permasalahan kedepan akan semakin kompleks terlebih kerajinan dan batik merupakan produk budaya. Perlu sebuah kesadaran dan upaya lebih dini untuk mulai beradaptasi menghadapi revolusi industri 4.0.
"UNESCO telah menganugerahkan batik sebagai warisan budaya. Ini perlu dipertahankan agar tidak diklaim sebagai warisan bangsa lain. Tantangan saat ini memang semakin besar. Maraknya batik murah dari negara lain. Perlu upaya regenerasi pembatik karena skill ini rumit dan butuh ketelatenan, butuh kompetensi khusus, apalagi pertumbuhan era teknologi 4.0 bergerak cepat dan akan mendisrupsi dunia usaha termasuk cara berelasi bahkan cara kita produksi, setidaknya langkah (seminar) ini menjadi sebuah solusi atas masalah tersebut," bebernya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/seminar-batik.jpg)