Yogyakarta

Tekstil dari Bahan Limbah Kulit Kelinci

Pembuatan tekstil dapat dilakukan dengan memanfaatkan limbah kulit binatang, salah satunya limbah kulit kelinci.

Penulis: Siti Umaiyah | Editor: Ari Nugroho
istimewa
Tim Program Pengabdian kepada Masyarakat FMIPA UNY yang terdiri dari Eli Rohaeti, Endang Dwi Siswani, dan Susila Kristianingrum, melakukan modifikasi terhadap bahan tekstil yang dihasilkan berbasis limbah kulit Kelinci melalui penambahan nanopartikel ramah lingkungan 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Selama ini, limbah kulit kelinci menjadi salah satu limbah yang dibuang begitu saja serta belum termanfaatkan secara optimal.

Keterbatasan tenaga ahli serta teknologi menjadi salah satu penyebab belum dapatnya limbah kulit kelinci untuk diolah menjadi produk bernilai guna.

Melihat hal tersebut, Tim Program Pengabdian kepada Masyarakat FMIPA UNY yang terdiri dari Eli Rohaeti, Endang Dwi Siswani, dan Susila Kristianingrum, melakukan modifikasi terhadap bahan tekstil yang dihasilkan berbasis limbah kulit Kelinci melalui penambahan nanopartikel ramah lingkungan.

Viral Video yang Sempat Bikin Orang Bingung, Disebut Kelinci Ternyata Gagak

Eli Rohaeti menjelaskan, salah-satu produk yang bernilai guna dan dibutuhkan oleh setiap manusia adalah produk tekstil.

Pembuatan tekstil dapat dilakukan dengan memanfaatkan limbah kulit binatang, salah satunya limbah kulit kelinci.

Menurutnya, selama ini limbah kulit Kelinci hanya dibuang tanpa pengolahan, sehingga menjadi limbah organik yang menimbulkan bau ketika sudah membusuk.

"Limbah tersebut akan masuk ke perairan sehingga menimbulkan pencemaran air selain pencemaran tanah," terangnya

Sujono, Seniman asal Magelang, Melukis Karya Lukisan yang Indah dari Limbah Plastik

Menurut, nanopartikel yang digunakan dalam proses penyamakan kulit kelinci berfungsi sebagai bahan antibakteri dan antijamur.

"Dengan demikian, pembuatan produk tekstil berbasis limbah kulit binatang tidak membutuhkan biaya besar tetapi dapat menghasilkan produk multifungsi sehingga biaya produksi relatif murah," katanya

Endang Dwi mengungkapkan, melalui penerapan teknologi dan penggunaan beberapa bahan kimia sederhana serta penambahan fatliquor dan bahan alam seperti gambir sebagai bahan penyamak kulit binatang, kulit kelinci dapat disamak dengan mudah sebagai upaya mengelola limbah kulit binatang yang dihasilkan.

"Ekstrak tanaman dapat digunakan sebagai bahan penyamak kulit binatang sehingga proses produksi penyamakan kulit lebih ramah lingkungan serta biayanya lebih murah," ungkapnya

Endang mengatakan, pihaknya telah melakukan kegiatan pembekalan kepada para Pemuda Karang Taruna Mexicana di Dusun Calukan, Sinduharjo, Sleman.

Biasa Terlihat Lucu, Kelinci Berikan Penampakan Lain Saat Menguap

Materi pembekalan disampaikan kepada pemuda antara lain mengenai Pencemaran Lingkungan dan Pengelolaannya; materi tentang Pengolahan Limbah Kulit Kelinci; dan materi tentang Modifikasi Kulit Kelinci Tersamak menjadi Produk Fungsional Bernilai Ekonomi.

Kemudian kegiatan pembekalan materi dilaksanakan, selanjutnya dilakukan demonstrasi pembersihan kulit, penyamakan kulit, pelemasan kulit, dan pengeringan.

Setelah pemuda peserta PKM paham, maka dilanjutkan praktek mulai dari pembersihan, penggaraman, penyamakan, peminyakan, sampai pada pengeringan.

Dia berharap, dengan adanya pembekalan tersebut, para Pemuda Karang Taruna Mexicana dapat mengolah limbah kulit Kelinci menjadi produk fungsional dan bernilai ekonomi tinggi.

"Sehingga mereka memiliki pengetahuan dan kesadaran lingkungan tentang cara pemanfaatan sumber daya alam khususnya limbah kulit Kelinci menjadi produk tekstil maupun produk kerajinan dengan pendekatan sains, teknologi, dan masyarakat,“ terangnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved