Pendidikan
Tanoto Foundation Latih Siswa Menjadi Generasi Penulis dan Penemu Melalui Program PINTAR
Tanoto Foundation berkomitmen untuk meningkatkan mutu kualitas pendidikan di Indonesia melalui beberapa program yang telah dijalankannya.
Penulis: Noristera Pawestri | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tanoto Foundation berkomitmen untuk meningkatkan mutu kualitas pendidikan di Indonesia melalui beberapa program yang telah dijalankannya.
Salah satunya melalui program PINTAR (Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran) yang pada kesempatan ini diterapkan kepada siswa SMPN 1 Yogyakarta, Jumat (13/9/2019)
Program ini berfokus pada kekhasan karakter mata pelajaran dan bertujuan untuk menghasilkan generasi penulis dan penemu.
• Tingkatkan Kualitas Pendidikan, UGM Perpanjang Kemitraan dengan Tanoto Foundation
Wakil Direktur Program Pendidikan Dasar Tanoto Foundation, Margaretha Ari Widowati menyampaikan program ini juga melatih 180 orang fasilitator dari Jawa Tengah dan Kalimantan Timur.
"Khusus untuk SMP kami mengadakan praktik mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, IPA dan IPS," kata dia.
Ia melanjutkan, program PINTAR ini memiliki dua modul. Pada modul pertama fokus pada kemampuan metodologi dalam pembelajaran.
Sementara pada modul kedua mendorong agar produk-produk pembelajaran mengarah pada karya-karya tulis dan penemu sesuai dengan karakter mata pelajarannya.
"Program PINTAR berfokus pada peningkataan numerasi, literasi dan sains," ungkapnya
Kepala Pelatihan Sekolah dan Guru Program PINTAR Tanoto Foundation Ujang Sukandi, menuturkan setiap mata pelajaran memiliki karakter keterampilan dan proses tersendiri yang perlu dilatihkan secara berkelanjutan kepada siswa.
• Orasi Ilmiah Sri Sultan HB X: Pendidikan Khas Ke-Jogja-an Kedepankan Konsep Pertumbuhan Anak
Misalnya, dalam pembelajaran matematika yang berciri melatihkan siswa keterampilan matematika seperti penalaran, pembuktian, representasi, koneksi, komunikasi dan proses seperti penyelidikan, penemuan dan pemecahan masalah.
"Jadi dalam belajar matematika, siswa tidak hanya diberikan rumus, tetapi kita akan mendorong dan memfasilitasi siswa untuk menemukan rumus tersebut," ujarnya
Pembelajaran yang mengembangkan karakter Mapel tersebut kata dia dapat mengembangkan potensi anak, yaitu rasa ingin tahu dan berimajinasi di mana kedua hal tersebut merupakan dasar bagi kreativitas.
Seperti dalam pembelajaran IPS, guru dilatih mengembangkan keterampilan IPS dan sikap sosial siswa.
"Keterampilan IPS yang dimaksud seperti keterampilan berpikir kritis, mengolah informasi, berperan dalam kelompok dan mampu mengkonstruksi pengetahuan baru," jelasnya.
Sementara pada pembelajaran IPA, kekhasannya ada pada menemukan jawaban dari persoalan dengan cara metode ilmiah.