Kriminal

UPDATE Kasus Pembunuhan Pengusaha Salon Lubuklinggau Timur, Sosok Ini Diamankan Polisi

Satreskrim Polres Lubuklinggau telah melakukan penyidikan dan mencari titik terang siapa pelaku pembunuh

Editor: Iwan Al Khasni
Sripo
Seorang Waria Bernama Siska Sarangheo diamankan polisi, diduga terlibat pembunuhan Muhammad Efendi (58) alias Ipung 

Ada 4 fakta baru terungkap dalam peristiwa pembunuhan tehadap Ipung pemilik Ipung Salon di Lubuklinggau.

Fakta pertama bahwa terdapat 10 titik luka ringan maupun berat di tubuh pria yang memiliki nama asli Muhammad Efendi (58) ini.

Fakta kedua, jika satu hape atau ponsel dan kunci rumah Ipung raib, alias dilarikan pria yang diduga pelaku pembunuhan.

Kemudian Fakta ketiga bahwa barang berharga lain tidak hilang, seperti uang puluhan juta, 2 hape atau ponsel lainnya, cincin dan gelang masih utuh.

Selanjutnya, Fakta keempat bahwa Ipung pernah ribut dengan rekannya sesama pemilik usaha salon, namun hal itu sudah ditegaskan belum ada kaitannya dengan tewasnya korban.

Seperti diketahui, Rahmat alias Ipung warga Jl Yos Sudarso RT 11, Kelurahan Taba Jemekeh, Kecamatan Lubuklinggau Timur menjadi korban pembunuhan dirumahnya, Jumat (23/8/2019).

Ipung tewas dengan kondisi pecah tempurung kepala diduga akibat benda tumpul, dua luka tusuk di leher kanan kiri, lima luka tusuk dibagian dada dan perut serta luka lecet ditangan.

Kepergian Ipung alias Pung Loi secara mengenaskan tidak disangka oleh para keluarganya.

Bahkan mereka tidak menyangka sama sekali kalau Ipung akan mengalami nasib tragis.

"Tidak menyangka sama sekali pak, karena setahu kami dia (Ipung) tidak ada musuh sama sekali," ungkap Anton keponakan Ipung di Rumah Sakit dr Sobirin pada Tribunsumsel.com.

Anton mengaku, dulu ia pernah mendengar pamannya itu ribut dengan temannya. Namun ternyata mereka masih bersaudara dan itu sudah lama sekali.

"Itu sudah lama sekali, habis itu kami tidak pernah lagi mendengar kalau dia (Ipung) ribut-ribut dengan temannya atau sesama mereka yang punya usaha salon," ujarnya.

Anton mendapat kabar pamannya itu meninggal dunia sekira pukul 10.00 WIB dari kakaknya. Ketika mendapat kabar itu ia langsung meluncur menuju rumah korban.

"Ketika datang, polisi sudah ramai, saya membantu polisi mengemas barang-barangnya, cincin, gelang semuanya masih utuh. Termasuk uangnya masih utuh. Tapi bukan Rp.15 juta melaikan hanya Rp 13,1 Juta," paparnya.

Namun yang hilang yakni kunci rumah, biasanya pamannya itu selalu rapi, kunci rumah dan seluruh kunci lemari selalu digabung dalam satu gantungan.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved