Jawa
Petani di Magelang Diajarkan Cara Mengendalikan Hama Tanpa Rusak Ekosistem
Para petani di Kota Magelang diberikan pemahaman lagi soal pertanian, mulai dari komponen agroekosistem sawah, pembuatan petak petani, sampai pengenda
Penulis: Rendika Ferri K | Editor: Ari Nugroho
Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri K
TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Para petani di Kota Magelang diberikan pemahaman lagi soal pertanian, mulai dari komponen agroekosistem sawah, pembuatan petak petani, sampai pengendalian hama terpadu, di Sekolah Lapangan Pengelolaan Hama Terpadu (SLPHT) oleh Dinas Pertanian dan Pangan, Rabu (22/8/2019).
Kegiatan sekolah ini dilakukan agar mereka jadi petani yang handal.
“Petani penting mengenal agroekosistem sawah dan komponennya. Di dalam agroekosistem sawah, petani perlu mengenal komunitas hewan dan tumbuhan yang menjadi pendukung maupun pembatas dalam produksi padi di lahan sawahnya,” ujar Kepala Disperpa Kota Magelang, Eri Widyo Saptoko, Kamis (22/8/2019) di sela kegiatan SLPHT di Kota Magelang.
• Tanaman Bawang Merah di Srigading Bantul Diserang Hama Ulat Grayak, Petani Merugi Jutaan Rupiah
Ada kurang lebih 25 petani yang berasal dari Kelompok Tani (Poktan) Subur Makmur Magelang.
Ada juga POPT (pengamat organisme pengganggu tanaman), dan penyuluh yang turut serta.
Mereka diajarkan secara lebih dalam soal pertanian.
Para petani juga diajarkan cara mengenali dan membedakan hama, penyakit, dan musuh alami.
"Hal ini penting agar petani mampu mengendalikan hama dan penyakit sesuai konsep SLPHT yang benar," ttuurnya.
Fasilitator SLPHT, I Made Redana, mengatakan kegiatan ini penting agar para petani bisa mengenali hama, penyakit, dan musuh alami. Bagaimana penanganan hama penyakit secara benar.
“Perlu juga tahu kapan harus dikenalikan dan kapan harus dibasmi dengan pestisida nabati,” katanya.
Kepala Seksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Disperpa Kota Magelang, Ahmad Sholikhun, mengatakan, SLPHT dilaksanakan secara rutin setiap minggu dalam 12 kali pertemuan.
Pembelajaran petani berupa praktek lapang, presentasi, dan diskusi kelompok dengan kemasan versi petani.
• Tingkatkan Pemahaman Informasi Cuaca Petani di Bantul, BMKG Gelar Sekolah Lapang Iklim
"Kami mulai dari pembuatan petak petani dan petak PHT. Sebanyak 25 peserta dibagi dalam 5 kelompok kecil. Masing-masing kelompok kecil membuat 10 petak petani dan 10 petak PHT," katanya.
Petak petani adalah lahan sawah yang dibudidayakan menurut kebiasaan petani setempat, sedangkan petak PHT adalah lahan sawah yang dijadikan percontohan karena dibudidayakan sesuai rekomendasi Disperpa mengacu pada konsep Budidaya Tanaman Sehat (BTS).
Adapun varietas padi yang digunakan pada petak petani adalah varietas IR-64, sedangkan petani PHT adalah varietas Ciherang.
Selanjutnya dilakukan pengamatan tinggi tanaman, jumlah rumpun, dan keberadaan musuh alami.(TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/sekolah-lapangan-pengelolaan-hama-terpadu.jpg)