Jawa

Gereja 'Ayam' Bukit Rhema Magelang Kini Memiliki Kapel

Para pengunjung pun mendapatkan singkong gratis yang singkong itu dibeli dari masyarakat sekitar dan diberikan ke pengunjung.

Penulis: Rendika Ferri K | Editor: Ari Nugroho
Istimewa
Peresmian Kapel Bunda Maria Segala Bangsa di destinasi wisata religi Rumah Doa Bukit Rhema 'Gereja Ayam' di Dusun Gombong, Desa Kembanglimus, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Kamis (15/8/2019). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri K

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Destinasi wisata di Borobudur, Kabupaten Magelang, Rumah Doa Bukit Rhema atau kerap disebut 'Gereja Ayam' kini memiliki Kapel untuk tempat beribadah umat Agama Katolik.

Kapel yang dinamakan Kapel Bunda Maria Segala Bangsa, secara resmi dibuka pada Kamis (15/8/2019) sore ini.

Pembangunan kapel ini adalah awal dari pembangunan tempat ibadah dari berbagai agama di bukit Rhema.

Pembangunan tempat peribadatan dari berbagai agama ini menjadi komitmen awal dari sang pendiri, untuk menjadikan rumah doa ini menjadi rumah doa segala umat.

"Kami ingin menjadikan rumah doa di Bukit Rhema sebagai rumah doa sebagai segala bangsa. Kapel ini adalah tahap awal pembangunan tempat ibadah. Nanti akan dibangun tempat ibadah Musholla untuk Agama Islam, Buddha, Konghucu, bahkan rencananya Pura untuk agama Hindu," kata Dimas Setia Wenas, Marketing Communication Rumah Doa Bukit Rhema, Kamis (15/8/2019) di sela peresmian Kapel.

Memukaunya Sunrise di Punthuk Setumbu dan Gereja Ayam

Dimas mengatakan, melalui peresmian Kapel ini dan rencana pembangunan tempat peribadatan lainnya, pihaknya ingin menciptakan ekosistem wisata dimana akan ada banyak keberagaman di Indonesia.

Di tempat ini, akan ada banyak tempat ibadah dan peresmian kapel menjadi langkah awal.

Ia mengatakan, sesuai visi dari pendiri, Daniel Alamsjah, ia mendapatkan wahyu untuk membangun rumah doa, tidak hanya untuk Agama Kristen saja, tetapi untuk semua agama.

Ia pun membangun Rumah Doa ini pada tahun 1988, di atas bukit tempatnya berdoa dulu, yang kini dinamakan Bukit Rhema.

"Pak Daniel berdoa di Bukit Rhema dan mendapat wahyu untuk menbuat rumah doa tidak untuk agama kristen tetapi bagi semua. Dibangunlah sebuah rumah doa di atas bukit ini, yang berdiri hingga sekarang," ujar Dimas.

Arsitektur sendiri terinspirasi dari luar negeri, saat Daniel belajar di sebuah universitas di Jerman.

Ia ingin membangun bangunan tanpa penyangga atau pilar di bagian tengah.

Bentuknya sendiri sebetulnya adalah burung Merpati, perlambang kedamaian.

Burung Merpati tersebut mengenakan mahkota di kepalanya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved